TULUNGAGUNG-Dengan semangat menjaga dan melestarikan warisan budaya asli Indonesia, Eko Putranto S.Tr.Sn., mengabdikan hidupnya sebagai satu-satunya empu keris dan senjata tradisional di Kabupaten Tulungagung.
Karya warga Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, dipesan ke mancanegara hingga langganan menjadi penjamas keris Presiden Indonesia ke 7, Joko Widodo (Jokowi).
"Keris dan pusaka tradisional bukanlah mistis. Ini adalah karya dan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan agar tidak punah," kata Eko, sapaan Eko Putranto, yang juga punya padepokan yang diberi nama Pulanggeni, di Tulungagung.
Eko tidak hanya menempa bilah logam menjadi keris, tapi juga merawat warisan leluhur yang kian tergerus zaman. Darah empu mengalir dalam dirinya.
Sejak duduk di bangku kelas 3 SD, dia sudah ikut membantu sang kakek yang berprofesi sebagai penjamas (perawat keris) di Desa Tanggung.
Kakeknya tersebut adalah keturunan langsung dari Empu Kertayuda, tokoh keris yang tersohor di masa lalu. “Dulu setiap malam 1 Sura, saya ikut menjaga dan merawat pusaka,” kenangnya.
Namun seiring berjalannya waktu, dia menyadari bahwa keris semakin kehilangan tempat di masyarakat. Banyak orang yang salah paham, menganggap keris semata sebagai benda mistis yang menyeramkan.
Kondisi ini mendorong Eko untuk mengambil jalan panjang, menyelamatkan keris sebagai budaya asli Indonesia.
Dia tak sekadar membuat keris, tapi juga berupaya mengedukasi masyarakat bahwa pusaka ini adalah warisan budaya luhur, bukan sekadar simbol mistis.
Bahkan dia tak segan-segan menempuh pendidikan di bangku kuliah untuk mendalami ilmu tentang keris tersebut di ISI Surakarta.
“Banyak keris yang justru dimusnahkan, dibuang, bahkan dibakar karena dianggap membawa pengaruh mistis yang buruk. Padahal di dalamnya terkandung filosofi dan nilai luhur bangsa,” ujarnya.
Karya-karya Eko tidak hanya diapresiasi di dalam negeri, tapi juga menembus pasar internasional. Terbaru, dia menerima pesanan dua bilah pusaka dari Colorado, Amerika Serikat.
Sebelumnya, dia juga menjadi langganan menjadi penjamas keris milik Presiden RI ke-7, Joko Widodo, di Surakarta.
Dalam proses penciptaan, Eko mengedepankan filosofi dan karakter pemesan. Setiap keris diciptakan dengan metode khusus dan ruh budaya yang kuat menyesuaikan kepribadian pemesan.
“Saya ingin keris tidak hanya dipajang, tapi selalu dikenakan sebagai ageman (busana kebesaran) dalam keseharian, agar tetap dikenal dan dicintai generasi muda,” katanya.
Eko percaya, selama keris masih digunakan dalam kehidupan, meski secara fungsional berubah dari senjata menjadi simbol identitas, maka keris akan tetap hidup.
Dia pun berharap pemerintah lebih hadir dan bersinergi dengan para empu serta praktisi budaya. Agar keris bisa terus berkembang dan tidak punah. Perkembangannya pun harus sesuai jaman.
“Kalau didukung dengan baik, empu bisa terus menciptakan karya baru, dan generasi muda bisa kenal, bangga, dan cinta terhadap keris,” tegasnya.
Di padepokannya, Pulanggeni, api semangat itu terus dijaga. Satu per satu keris dilahirkan kembali dan dikembangkan. Bukan untuk bertempur, tapi untuk menjaga identitas dan jati diri bangsa. (*/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah