TULUNGAGUNG - Di banyak sudut kampung di Tulungagung, ada satu pemandangan yang hampir selalu hadir pohon besar yang berdiri kokoh di pinggir jalan.
Entah itu beringin, trembesi, atau waru, pohon-pohon tua ini bukan cuma jadi peneduh di jalanan Tulungagung ketika siang bolong tapi juga punya peran penting sebagai "landmark" kampung.
Pohon-pohon besar di pinggir jalan di Tulungagung punya sejarahnya sendiri.
Ada yang ditanam sejak zaman kakek-nenek dulu. Ada pula yang tumbuh liar lalu dibiarkan karena dianggap membawa kesejukan dan keberkahan.
Di bawah rindangnya, anak-anak sering main sepeda, bapak-bapak ngobrol sambil ngopi, atau ibu-ibu nunggu jemputan anak sekolah.
Beberapa bahkan punya nama tersendiri, seperti "Pohon Beringin Lapangan" atau "Trembesi Tugu".
Nama-nama itu melekat di ingatan warga dan sering jadi petunjuk arah: “Dari pasar belok kiri, terus sampai pohon trembesi, baru masuk gang.”
Dalam kesederhanaannya, pohon-pohon itu bukan cuma bagian dari pemandangan, tapi juga dari kehidupan sosial.
Tempat menunggu, tempat ngobrol, tempat janjian, bahkan kadang tempat istirahat petani yang baru pulang dari sawah.
Di tengah perkembangan zaman dan bangunan yang makin banyak, keberadaan pohon-pohon ini tetap jadi penanda yang akrab di hati.
Meski tak pakai GPS atau share location, warga Tulungagung terkadang janjian di pohon-pohon peneduh sebagai tempat janjian. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah