TULUNGAGUNG – Wilayah Tulungagung mengalami tiga kali deflasi dalam enam bulan pertama di tahun ini. Itu sebabnya, pemkab melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk memastikan nilai inflasi dan deflasi di semester II tahun ini tetap dalam koridor aman.
Kabag Perkonomian dan Sumber Daya Alam Setda Tulungagung, Arif Effendi menerangkan, ada berbagai langkah yang disiapkan dalam rangka antisipasi inflasi yang terlalu tinggi atau deflasi yang terlalu dalam.
Salah satu di antaranya adalah meningkatkan produksi komoditas pangan di Tulungagung. Itu akan berdampak pada harga di pasar dan meminimalkan risiko kekurangan stok pangan daerah.
“Jadi karena kita Kabupaten Tulungagung, di samping sebagai konsumen, kita kan juga sebagai produsen. Banyak komoditas-komoditas pertanian kita juga yang memang ini kita jadi sentra,” tandasnya, Selasa (8/7/2025).
Dia menyebut wilayah Tulungagung juga terkenal sebagai salah satu sentra penghasil padi terbesar di wilayah Jawa Timur (Jatim). Potensi itu yang perlu kembali ditingkatkan untuk menjaga nilai inflasi di masa paro kedua tahun ini.
Hal ini juga berkaitan dengan penyerapan beras produksi lokal oleh Perum Bulog yang nantinya dimaksudkan sebagai stok beras dan penyediaan bantuan sosial ke masyarakat.
“Kita laksanakan semua. Termasuk dalam waktu dekat ini pemerintah pusat sudah meluncurkan tugas-tugas pembantuan kepada Bulog untuk menyalurkan bantuan pangan,” sebutnya.
Tapi, pemkab harus sabar menanti pelaksanaan program penyerahan bantuan beras melalui Bulog.
Alasannya sampai saat ini belum ada instruksi dari pemerintah pusat terkait penyaluran bantuan berupa beras ke masyarakat.
“Tapi, suratnya belum sampai ke kami. Karena mungkin masih menunggu instruksi lebih lanjut. Tapi yang jelas sudah, untuk bulan Juni dan Juli nanti diterimakan satu bulan untuk bantuan pangan,” sambungnya.
Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian adalah dengan perluasan area tanam (PAT) yang juga dicanangkan oleh pemerintah pusat di berbagai wilayah.
Dalam hal ini, lanjut Arif, pemkab juga harus menilik luasan dan peruntukan lahan di Tulungagung. Sebab, opsi untuk membuka area sawah baru kemungkinan kecil bisa direalisasikan.
“Yang memungkinkan adalah peningkatan area sawah yang sudah ada. Dia lebih ditingkatkan lagi. Kalau membuka lahan baru di Tulungagung, lahan yang mana lagi?” ucapnya.
“Bukan di Tulungagung saja, di Pulau Jawa itu udah nggak memungkinkan membuka lahan baru. Karena memang lahannya mana lagi? Kalau ada yang kosong bisa dibuka. Nggak ada lagi lahan yang kosong. Jadi (lebih baik) memaksimalkan lahan yang sudah ada,” bebernya.
Opsi lain yang juga patut ditimbang adalah mengoptimalkan lahan pertanian yang tidak dimanfaatkan dalam periode waktu tertentu atau disebut lahan tidur.
Tapi, lahan opsi ini hanya bisa diterapkan pada komoditas tertentu. Komoditas pertanian utama seperti padi tidak bisa dilakukan di sembarang lahan.
“Tapi kalau padi kan harus buat sawah. Lahan nganggur dibuka (untuk tanam komoditas padi) nggak mungkin bisa,” kata dia.
Lalu, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) juga disebut sebagai opsi yang bisa diambil untuk menekan angka inflasi tetap pada taraf aman di enam bulan kedua tahun ini.
“Kemudian juga ada GPM yang dilakukan oleh (dinas) ketahanan pangan. Itu satu kesatuan upaya dari tim pengendalian inflasi Kabupaten. Jadi arahnya ke situ,” ujar Arif.
Untuk diketahui, angka inflasi dikatakan aman jika dalam batas 1,5 hingga 3,5 persen setiap bulan. Selama periode Januari hingga Mei tahun ini, wilayah Tulungagung mengalami deflasi selama tiga bulan. Yakni pada Januari, Februari, dan Mei.
Adapun nilai deflasi terendah terjadi pada periode Februari lalu. Yaitu berada di angka minus 0,72. Itu nilai inflasi terendah dalam periode Januari hingga Mei tahun ini.
Itu sebabnya, tim pengendali inflasi daerah sedang menyiapkan berbagai skema untuk memastikan nilai inflasi di semester kedua tahun ini tetap pada ambang batas aman. (dit/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah