TULUNGAGUNG- Perjuangan atlet lompat tinggi Tulungagung, Icha Tia Monica, berbuah manis. Tiga kali tampil di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur, tahun ini bisa raih medali emas.
Bisa dikatakan, Icha, Icha Tia Monica, berubah haluan. Sebab dulu ketika masuk Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Tulungagung, dia memilih lari.
Waktu itu spesialis sektor 100 meter dan 400 meter. Jadi belum terpikirkan untuk bisa masuk ke lompat tinggi membela Tulungagung yang memang jarang atletnya.
Bahkan ketika masuk SMAN 1 Ngunut Tulungagung pun tetap sama di jalur lari. “Dulu waktu SMA ikut Sentra Pelatihan Olahraga Pelajar (SPOP) di Kediri. Untuk sekolah bisa daring,” terang warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Rejotangan, tersebut.
Di SPOP itu pun, dia tetap di lari sekitar 1 tahun atau pada saat kelas X. Di kelas XI, dia mulai latihan lompat tinggi karena sang pelatih memandangnya bisa.
Dia tentu berlatih dan kerja keras agar bisa mencapai harapan pelatih. Dalam sehari, dia latihan dua kali di pagi dan sore hari.
Durasi latihan pagi mulai pukul 07.00 hingga pukul 10.30, sedangkan sore pukul 15.30 sampai 17.00. Latihan rutin untuk mengasah kemampuan dalam hal teknik maupun stamina.
Dia sudah beberapa tahun latihan di SPOP, rela tinggal di asrama, dan tidak pulang kampung untuk bertemu dengan keluarga. Terkecuali memang ketika libur latihan.
Selain itu, dia sudah memberanikan diri ikut porprov di Jember pada tahun 2022. Namun, penampilanya memang belum sempurna.
Di tahun berikutnya, saat porprov di Sidoarjo, dia sempat mengalami cedera. Hasilnya pun masih belum memuaskan.
Terakhir, porprov di Malang memang membuahkan hasil yang baik. “Alhamdulillah dapat emas, meskipun penuh lika-liku,” ungkap gadis 20 tahun ini.
Saat tampil di porprov ini, dia sempat grogi. Sebab, event pemanasan Jatim Open sempat kali dari wakil Malang, maka dia mengetahui kemanpuannya.
Tak ingin minder, dia menambah porsi latihan dan membenahi segala kekerangan yang dimilikinya agar tampil lebih baik.
Saat tanding, atlet Malang yang sama pun ikut di porprov kali ini. Namun, hasilnya belum memuaskan. “Kalau grogi iya, ketemu lawan sama, terpenting percaya diri,” jelasnya.
Dia pun berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan lompatan 1,43 meter. Di percobaan pertama gagal, tetapi di percobaan kedua berhasil.
Saingan terberat justru dari Tuban, tapi tidak mampu lompat di ketinggian 1,40 meter. “Turut terharu, dukungan dari pelatih, PASI, serta semua teman-taman yang selalu memberikan semangat,” ujarnya.
Icha membuktikan bahwa dengan semangat pantang menyerah dan keterbatasan fasilitas tak menghalangi untuk bisa meraih prestasi. “Kalau di Tulungagung belum memiliki matras untuk lompat tinggi,” pungkasnya.(*/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah