TULUNGAGUNG - Setiap pagi di Tulungagung, sawah-sawah bukan cuma jadi tempat kerja para petani tapi juga panggung riuh rendah bagi kawanan burung emprit.
Suara-ciap ciap kecil mereka seolah jadi backsound alami yang menghidupkan suasana kampung di Tulungagung.
Pemandangan ini jadi hiburan gratis di Tulungagung bagi siapa saja yang melintas atau duduk santai di pinggir pematang.
Baca Juga: Hewan Peliharaan Ala Kampung Tulungagung dari Ayam, Kambing, sampai Burung
Burung emprit, dengan tubuh mungil dan gerakannya yang lincah, selalu hadir dalam jumlah banyak, terutama saat musim panen padi.
Mereka turun bergerombol, mencari bulir-bulir sisa yang belum dipanen atau tercecer.
Meski kadang dianggap hama kecil, kehadiran mereka justru memperkaya lanskap khas pedesaan.
Warga punya cara khas untuk mengusir mereka tanpa kekerasan mulai dari menggantung CD bekas yang berkilau, sampai membuat orang-orangan sawah dari baju bekas dan topi caping.
Tapi tak jarang juga, warga membiarkan burung-burung itu bermain, seolah tahu itulah bagian dari siklus alami sawah.
Anak-anak pun ikut menikmati kehadiran burung emprit.
Beberapa dari mereka mencoba menangkap satu-dua ekor, bukan untuk disakiti, tapi dipelihara di kandang kecil dari bambu.
Baca Juga: Kenapa Banyak Warga Tulungagung yang Hobi Koleksi Burung? Ternyata Ada Filosofinya!
Meskipun sering gagal karena burungnya terlalu lincah, keseruan proses "berburu" ini sendiri sudah cukup bikin pagi mereka penuh tawa.
Fenomena ini mengingatkan kita, bahwa di kampung, hal-hal kecil seperti suara burung liar pun bisa jadi sumber bahagia.
Tanpa perlu layar digital, tanpa tiket masuk cukup duduk di pinggir sawah dan biarkan alam memberi pertunjukannya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah