TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, sandal jepit bukan sekadar alas kaki.
Sandal jepit di Tulungagung adalah simbol kesederhanaan, kepraktisan, bahkan loyalitas yang tak terucapkan.
Warga Tulungagung mau ke musala, ke sawah, ke warung, atau bahkan ke hajatan, ya sandal jepit lagi.
Tak peduli bentuknya sudah letoy, warnanya beda kanan-kiri, atau bekas tamu yang kelupaan asal masih bisa dipakai, ya lanjut jalan!
Baca Juga: Liga Kampung Setiap Sore Anak Tulungagung, Gawang Sandal, dan Sorak Sorai sebelum Matahari Terbenam
Di banyak rumah, tumpukan sandal jepit di depan teras seperti koleksi pribadi yang penuh kenangan.
Ada yang sudah sol-nya tipis karena rutin dipakai nyabit rumput, ada yang tinggal satu pasangan karena kembarannya dipinjam saudara dan tak pernah kembali.
Lucunya, tak jarang kita menemukan sandal jepit yang jadi "milik bersama" warga.
Ditinggal sembarangan di musala, besoknya sudah berpindah ke ladang.
Hari berikutnya nongkrong di depan warung kopi.
Tak ada yang benar-benar memiliki, tapi semua merasa berhak memakainya.
Bahkan saat kondangan pun, masih banyak yang cuek datang pakai sandal jepit.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Sandal Crocs Terbaik Untuk Wanita Di Blibli
Alasannya simpel: "Yang penting niatnya, bukan alas kakinya."
Sandal jepit mungkin terlihat sepele, tapi di Tulungagung, ia adalah saksi bisu dari kehidupan kampung yang sederhana, ikhlas, dan penuh tawa.
Sandal jepit bukan sekadar alas kaki, tapi bagian dari keseharian yang tak tergantikan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah