TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, ada “penjaga” yang tak berseragam, tak bergaji, tapi tetap setia menjaga warung dan kampung kucing warung dan anjing kampung.
Mereka bukan peliharaan resmi, tapi kehadirannya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga di Tulungagung.
Warung di Tulungagung, bisa dipastikan punya satu kucing andalan.
Warnanya bisa belang, putih polos, atau abu-abu.
Kucing-kucing ini tahu kapan harus manja dan kapan harus menjaga jarak.
Saat pengunjung makan, mereka duduk tenang di sudut, kadang mendekat jika ada yang makan ayam goreng atau bakso.
Tapi yang unik, mereka juga tahu siapa langganan tetap.
Banyak yang mengaku, “Kucing ini nggak pernah ganggu kalo yang makan orang sini.”
Sementara itu, di tiap gang kampung, selalu ada anjing kampung yang seperti hafal wajah-wajah penduduk.
Mereka tidak menggonggong pada warga, tapi langsung siaga kalau ada orang asing masuk gang malam-malam.
Kadang suaranya bikin jengkel, tapi justru itu yang bikin warga merasa aman.
Hewan-hewan ini tidak pernah dikasih seragam satpam atau nama keren. Tapi perannya nyata.
Mereka jadi teman, jadi pengawas tak resmi, dan kadang juga penghibur.
Hubungan yang terbangun antara manusia dan hewan-hewan ini bukan sekadar soal makanan, tapi juga soal rasa saling percaya.
Di Tulungagung, kucing warung dan anjing kampung bukan cuma hewan liar mereka adalah bagian dari ekosistem sosial.
Mereka tak digaji, tapi diberi nasi, dielus, dan kadang diajak ngobrol. Satpam paling setia, yang tak minta apa-apa selain sedikit perhatian. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah