TULUNGAGUNG - Di tengah modernisasi yang kian pesat, masih ada sejumlah tradisi unik di berbagai pelosok Indonesia yang tetap lestari dan dijaga turun-temurun, terutama di Tulungagung.
Salah satunya adalah tradisi manten kucing yang ada di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Tradisi ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan juga bagian dari kepercayaan lokal yang sarat makna.
Apa Itu Manten Kucing?
Manten kucing secara harfiah berarti pernikahan kucing. Dalam ritual ini, dua ekor kucing jantan dan betina diperlakukan layaknya sepasang pengantin. Kucing ini didandani, diarak keliling desa, bahkan ditempatkan di pelaminan kecil lengkap dengan sesajen dan doa-doa khusus dari tokoh masyarakat atau sesepuh desa di Tulungagung.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan saat musim kemarau panjang, sebagai permohonan turunnya hujan. Masyarakat di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung percaya bahwa kucing memiliki ikatan khusus dengan hujan, sehingga dengan menikahkan kucing, langit akan tersentuh dan menurunkan air hujan sebagai berkah.
Manten kucing di Campurdarat Tulungagung biasanya dilakukan oleh warga pedesaan, terutama yang masih memegang kuat adat dan tradisi. Kegiatan ini tidak memiliki tanggal pasti, karena tergantung kondisi cuaca dan kesepakatan warga. Namun, musim kemarau panjang menjadi waktu paling umum untuk melangsungkannya.
Prosesi Ritual
1. Persiapan – Warga mencari dua ekor kucing sehat yang akan dijadikan "pengantin". Mereka juga menyiapkan sesajen, perlengkapan pelaminan, dan pakaian adat mini untuk si kucing.
2. Pawai atau arak-arakan – Kucing diarak keliling kampung sambil disaksikan warga, dengan harapan menarik perhatian alam dan semesta.
3. Doa dan Ritual – Di akhir arakan, dilakukan doa bersama yang dipimpin tokoh adat, memohon hujan serta berkah untuk tanaman dan ternak.
4. Pelepasan – Setelah ritual selesai, kucing dilepas kembali atau dirawat oleh warga yang ditunjuk.
Baca Juga: Pacu Jalur Viral di TikTok, Tradisi Asli Riau Jadi Sorotan Dunia
Makna di Balik Tradisi
Meski terdengar unik bahkan lucu, tradisi manten kucing memiliki filosofi mendalam:
Simbol kesatuan manusia dan alam.
Doa kolektif masyarakat dalam menghadapi musim kering.
Pelestarian kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Bentuk gotong royong dan kekompakan warga dalam menjaga tradisi.
Daya Tarik Wisata Budaya
Kini, tradisi manten kucing di Tulungagung tidak hanya menjadi ritual lokal, tapi juga potensi wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan. Banyak pengunjung yang datang untuk melihat langsung prosesi unik ini dan belajar lebih dalam tentang budaya lokal Campurdarat.
Tradisi manten kucing di Campurdarat, Tulungagung, adalah contoh nyata bagaimana masyarakat Indonesia menjaga budaya dan tradisi dengan penuh makna. Di balik keunikannya, tersimpan pesan mendalam tentang harapan, doa, dan keharmonisan antara manusia dengan alam.
Jika Anda sedang berada di Tulungagung, sempatkanlah melihat tradisi ini secara langsung—siapa tahu, Anda bisa menyaksikan hujan turun setelah “kucing menikah”.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz