TULUNGAGUNG - Di banyak sudut kampung Tulungagung, pekarangan rumah bukan hanya tempat menjemur pakaian atau menanam bunga.
Di Tulungagung sering ditemukan kolam kecil entah dari semen, terpal, atau bekas bak mandi yang penuh dengan ikan lele, nila, atau gurami.
Bagi sebagian orang Tulungagung, itu mungkin terlihat seperti sekadar hobi, tapi bagi warga kampung, kolam ikan adalah bentuk kearifan lokal yang multifungsi.
Hiburan sehari-hari yang menenangkan banyak bapak-bapak yang sore harinya duduk di pinggir kolam sambil menebar pakan, memandangi gerakan ikan-ikan yang berebut makanan.
Suara kecipak air jadi musik alami, menenangkan pikiran setelah seharian bekerja.
Anak-anak pun sering ikut, bahkan memberi nama untuk ikan-ikan favorit mereka.
Sumber Pangan yang Siap PanenKolam ikan juga jadi “lemari es hidup”.
Saat butuh lauk, tinggal angkat jaring dan goreng lele atau nila segar.
Rasanya lebih nikmat karena hasil ternak sendiri, dan tentu lebih hemat dibanding beli di pasar.
Ladang penghasilan tambahan tak sedikit warga yang akhirnya menjadikan kolam kecil di pekarangan sebagai sumber pemasukan.
Ikan-ikan hasil ternak dijual ke tetangga atau warung makan. Modal pakan yang tak seberapa bisa berbuah cuan saat panen tiba.
Di Tulungagung, kolam ikan bukan sekadar genangan air penuh makhluk bersirip. Ia adalah cerminan gaya hidup sederhana, mandiri, dan penuh perhitungan.
Sebuah tabungan hidup, dalam arti yang sebenarnya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah