Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pesta Pernikahan di Kampung Tulungagung Seminggu Sebelum, Kampung Sudah Hidup!

Yoga Dany Damara • Kamis, 10 Juli 2025 | 19:45 WIB

Di kampung-kampung Tulungagung, pesta pernikahan bukan sekadar acara sehari. Bagi warga, ini adalah momen besar yang menggugah semangat gotong royong, kebersamaan, dan tradisi yang mengakar kuat.
Di kampung-kampung Tulungagung, pesta pernikahan bukan sekadar acara sehari. Bagi warga, ini adalah momen besar yang menggugah semangat gotong royong, kebersamaan, dan tradisi yang mengakar kuat.

TULUNGAGUNG- Di kampung-kampung Tulungagung, pesta pernikahan bukan sekadar acara sehari.

Bagi warga Tulungagung, ini adalah momen besar yang menggugah semangat gotong royong, kebersamaan, dan tradisi yang mengakar kuat.

Bahkan sebelum hari H tiba, suasana kampung di Tulungagung sudah terasa berbeda hidup dan ramai seakan menyambut perayaan besar.

Begitu kabar pesta pernikahan tersebar, para tetangga dan sanak saudara langsung bergerak.

Aktivitas dimulai dari pemasangan terop, bersih-bersih halaman, hingga membuat dekorasi sederhana yang dikerjakan bersama.

Semua dilakukan dengan sukarela dan penuh semangat.

Kaum ibu mulai berkumpul di dapur, membuat daftar belanja dan mempersiapkan bumbu-bumbu dasar yang akan digunakan untuk memasak.

Sementara para bapak membantu mengangkat kursi, menyiapkan alat masak besar seperti dandang dan kuali, serta membenahi logistik air dan listrik untuk kelancaran acara.

Baca Juga: Mitos Bulan Selo: Mengapa Warga Tulungagung Enggan Gelar Pernikahan?

Rewangan atau gotong royong adalah denyut nadi pesta pernikahan di kampung. Setiap hari menjelang pernikahan, rumah mempelai tak pernah sepi.

Warga datang bergantian membantu mulai dari memotong sayur, membungkus jajanan, menata kursi, hingga menyiapkan konsumsi untuk para tamu.

Yang menarik, rewangan ini bukan hanya tentang pekerjaan.

Di sinilah canda tawa terdengar, kabar terbaru antarwarga saling dibagikan, bahkan jodoh kadang ditemukan.

Tidak jarang, rewangan justru jadi ajang silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan di kampung.

Beberapa hari sebelum hari pernikahan, biasanya diadakan malam midodareni. Dalam adat Jawa, ini adalah malam ketika calon pengantin perempuan didampingi keluarga terdekat untuk memanjatkan doa agar pernikahan berjalan lancar.

Malam itu rumah dihias cantik, tamu datang silih berganti, dan hidangan khas disajikan seperti jenang, wajik, hingga apem.

Malam midodareni bukan hanya ritual, tetapi juga cara keluarga memperkenalkan sang mempelai kepada warga sekitar dalam suasana yang hangat dan penuh restu.

Baca Juga: Rahasia Pernikahan Bahagia di Tengah Kesibukan, Nomor 3 Paling Ampuh!

Saat hari pernikahan tiba, seluruh kampung terasa berubah menjadi panggung pesta. Musik dangdut atau orkes pengiring tembang Jawa mengalun dari pagi hingga malam.

Tamu berdatangan, saling sapa, dan menikmati hidangan khas kampung seperti nasi gurih, ayam ingkung, sambal goreng ati, hingga es dawet yang menyegarkan.

Para tamu tidak hanya duduk dan makan, tetapi juga berbincang, tertawa, dan saling mendoakan kebahagiaan pengantin.

Inilah bentuk pesta rakyat dalam arti yang  sebenarnya penuh kebersamaan dan kegembiraan.

Usai pesta, warga kembali berkumpul untuk membersihkan lokasi, mengembalikan barang pinjaman, dan menyantap hidangan sisa bersama-sama.

Baca Juga: Fenomena Marriage Is Scary dan Ketakutan Baru Perempuan Modern Terhadap Pernikahan, Apakah Wajar Takut Menikah?

Tidak ada yang merasa lelah karena semua dijalani dengan hati. Bahkan, ada rasa bangga karena bisa membantu kelancaran acara tetangga.

Pernikahan di kampung Tulungagung lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah momentum yang menghidupkan kembali semangat kolektif masyarakat.

Ketika satu keluarga menikah, seluruh kampung ikut bersuka cita. Suasana hidup yang tercipta bukan karena glamornya pesta, melainkan karena hangatnya kebersamaan.

Inilah warisan budaya yang masih dijaga oleh warga kampung sebuah pesta pernikahan yang dimulai jauh sebelum hari H, menyatukan hati banyak orang dalam semangat gotong royong dan kebahagiaan bersama. (*)

 
 
 
 
 
 
Editor : Didin Cahya Firmansyah
#pernikahan #tulungagung #kampung