Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bediding, Istilah Khas Warga Tulungagung untuk Udara Dingin di Musim Kemarau

Analisa • Jumat, 11 Juli 2025 | 01:30 WIB

 

Bediding adalah istilah khas masyarakat Tulungagung untuk menyebut udara dingin saat musim kemarau.
Bediding adalah istilah khas masyarakat Tulungagung untuk menyebut udara dingin saat musim kemarau.

TULUNGAGUNG– Musim kemarau di Tulungagung biasanya identik dengan cuaca panas dan udara kering.

Namun, bagi warga Tulungagung, ada satu fenomena yang justru membuat kemarau terasa dingin.

Bediding, sebutan warga Tulungagung merujuk pada kondisi ketika udara di malam hingga pagi hari menjadi sangat dingin, meskipun hujan tidak turun.

Bediding sudah menjadi istilah turun-temurun yang digunakan masyarakat Tulungagung untuk menandai waktu-waktu tertentu di musim kemarau, terutama antara bulan Juli hingga Agustus, ketika suhu udara mencapai titik terendah.

Di berbagai wilayah Tulungagung, bediding sering disebut dalam percakapan sehari-hari, seperti saat warga saling menyapa di pagi hari dengan kalimat, “Wah, wis mlebu bediding ya,” yang berarti “Sudah masuk musim dingin, ya.”

Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan lansia.

Petani pun sering menyesuaikan jadwal berkebun atau menyiram tanaman lebih pagi, karena suhu dini hari yang terlalu dingin dapat memengaruhi tanaman mereka.

Bagi masyarakat lokal, bediding bukan hanya fenomena cuaca, tetapi juga bagian dari rutinitas hidup.

Bediding mencerminkan bagaimana masyarakat Tulungagung menjaga hubungan dengan alam lewat bahasa dan tradisi.

Istilah ini tidak ditemukan dalam bahasa formal, tetapi tetap hidup dan digunakan luas dalam keseharian warga.

Bediding juga menjadi bukti bahwa masyarakat lokal telah lama memiliki pengetahuan cuaca dan musim berdasarkan pengalaman, jauh sebelum teknologi prakiraan cuaca berkembang.

Kini, istilah tersebut mulai dikenal luas di luar Tulungagung berkat media sosial dan konten lokal yang membahas kekayaan budaya dan bahasa daerah.

Dengan menjaga dan mengenalkan istilah seperti bediding, masyarakat Tulungagung secara tidak langsung ikut melestarikan warisan budaya lisan yang sarat makna.

Fenomena bediding menjadi contoh nyata bagaimana cuaca, bahasa, dan budaya bisa berpadu menjadi identitas lokal yang khas dan layak dikenang. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#istilah khas #tulungagung #bediding