Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sepeda Onthel Tua Tulungagung yang Masih Setia Menemani ke Sawah dan Pasar

Yoga Dany Damara • Jumat, 11 Juli 2025 | 12:45 WIB
Di tengah deru kendaraan bermotor dan padatnya lalu lintas masih ada pemandangan yang bikin hati hangat di Tulungagung seorang bapak  santai mengayuh sepeda onthel tua  di sawah.
Di tengah deru kendaraan bermotor dan padatnya lalu lintas masih ada pemandangan yang bikin hati hangat di Tulungagung seorang bapak santai mengayuh sepeda onthel tua di sawah.

TULUNGAGUNG- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi transportasi dan maraknya penggunaan kendaraan bermotor, masih ada sebagian masyarakat Tulungagung yang setia menggunakan alat transportasi tradisional.

Salah satunya adalah sepeda onthel tua yang hingga kini tetap menjadi andalan warga Tulungagung, terutama para petani dan pedagang pasar.

Meski usianya sudah puluhan tahun, sepeda ini tetap tangguh dan setia menemani pemiliknya dalam menjalani rutinitas harian di Tulungagung.

Baca Juga: Sepeda Ontel Modif ala Tulungagung dari Speaker Gede sampai Gantungan Panci, Semua Ada!

Sepeda onthel, atau yang juga dikenal dengan sebutan sepeda jengki, merupakan jenis sepeda tua yang populer pada masa penjajahan Belanda hingga era 1970-an.

Di Tulungagung, sepeda ini bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi simbol perjuangan, kesederhanaan, dan kearifan lokal.

Bagi sebagian warga desa di Tulungagung, sepeda onthel bukan sekadar kendaraan.

Sepeda onthel adalah warisan dari orang tua atau kakek-nenek mereka yang masih dijaga dan dirawat dengan penuh kasih.

Tidak jarang, sepeda ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga: 5 Jenis Sepeda Motor di Tulungagung yang Paling Sering Kamu Lihat, Ada Kode Rahasia Kehidupan

Pemandangan seorang petani mengayuh sepeda onthel di pagi hari menuju sawah masih bisa dijumpai di beberapa pelosok Tulungagung.

Dengan membawa cangkul di belakang dan bekal di keranjang depan, sepeda tua itu seolah menjadi teman setia dalam menjemput rezeki dari bumi.

Ban sepeda yang sudah tidak lagi mulus dan cat yang mulai pudar tak menjadi alasan untuk berpindah ke kendaraan bermotor. Justru karena kesederhanaannya, sepeda onthel dianggap lebih praktis dan hemat biaya.

Selain tidak membutuhkan bahan bakar, sepeda onthel juga mudah dirawat. Suku cadangnya pun masih bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional, atau bahkan dibuat sendiri oleh bengkel sepeda rumahan yang masih bertahan di daerah Tulungagung.

Bukan hanya petani, para pedagang pasar juga masih banyak yang menggunakan sepeda onthel untuk mengangkut barang dagangan.

Baca Juga: Kuliner Khas Tulungagung yang Wajib Dicoba Saat Liburan

Setiap pagi, mereka tampak mengayuh dengan penuh semangat, membawa keranjang besar berisi sayur-mayur, buah-buahan, atau jajanan tradisional untuk dijual di pasar-pasar lokal.

Sepeda ini dilengkapi dengan keranjang di bagian depan dan belakang, bahkan beberapa di antaranya telah dimodifikasi dengan bambu atau kayu untuk memperbesar ruang angkut.

Meskipun sederhana, efisiensi dan daya tahan sepeda onthel membuatnya tetap dipercaya sebagai kendaraan yang bisa diandalkan.

Menariknya, di Tulungagung juga mulai bermunculan komunitas pecinta sepeda onthel. Mereka bukan hanya melestarikan sepeda tua, tetapi juga menggelar kegiatan seperti gowes bareng, pameran sepeda klasik, dan bakti sosial.

Hal ini menambah semangat bagi para pemilik sepeda tua untuk tetap merawat dan menggunakan kendaraannya.

Beberapa bengkel tua di Tulungagung pun masih eksis melayani perbaikan dan restorasi sepeda onthel.

Mereka bahkan bisa membuat ulang suku cadang yang sudah langka dengan teknik tradisional, seperti membubut, mengelas, atau mendaur ulang komponen bekas.

Sepeda onthel tua di Tulungagung bukan hanya kendaraan, melainkan juga cermin nilai-nilai kehidupan yang semakin langka: kesederhanaan, ketekunan, dan keberlanjutan.

Ia mengajarkan bahwa hidup tak melulu harus serba cepat dan modern. Ada kalanya kita perlu menengok ke belakang, menghargai warisan masa lalu yang masih relevan hingga hari ini.

Di tengah hiruk-pikuk kota dan laju teknologi, sepeda onthel tetap berdenting di jalan-jalan kampung. Setia menemani pemiliknya ke sawah dan pasar, tanpa keluhan, tanpa pamrih. Ia tetap berjalan, meski usia tak lagi muda. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#sepeda #tulungagung #tradisional #pasar #onthel #sawah