TULUNGAGUNG-Tak banyak anak muda Tulungagung terpikat pesona batu mulia dan permata Nusantara. Namun, bagi Muhammad Tura Wahya Wibawa, kilau batu permata bukan sekadar hobi, melainkan panggilan hati yang membawanya menapak karier hingga ke tingkat nasional.
Berawal dari masa kecil yang akrab dengan batu, Tura, sapaan akrabnya, saat kecil sudah terbiasa duduk menemani sang kakek merawat dan memilah batu-batu koleksi di rumah di Kelurahan Kepetihan, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung.
Dia kala itu masih duduk di bangku SMP di Tulungagung. Belum memahami betul nilai di balik tiap bongkahan kecil yang bersinar. Namun, dari tangan kakeknya, dia mulai mengenal jenis-jenis batu, belajar membedakan keaslian, bahkan memahami cerita di balik tiap guratan warna.
“Waktu SMA, saya mulai dikenalkan pada jual beli batu mulia dan batu permata Nusantara. Dari situ makin serius,” kenangnya, saat ditemui di kediamannya, di Jalan MT Haryono Nomor 160 ini.
Pria berusia 29 tahun itu kini dikenal sebagai juri dan kurator nasional untuk batu mulia dan permata, khususnya dalam ajang bergengsi seperti Best of The Best Turquoise Indonesia dan kontes batu Nusantara lainnya.
Dia sejak 2017 aktif menyeleksi dan menilai batu permata dari berbagai daerah, mulai dari keaslian, kualitas, hingga estetika. “Saya sempat tidak percaya waktu pertama kali terpilih jadi juri nasional. Apalagi saat itu saya yang termuda,” ucapnya sambil tersenyum.
Prosesnya mengenal batu tidaklah instan. Dia harus lolos seleksi komunitas pencinta batu skala nasional dan mengikuti uji kompetensi. Namun sejak saat itu, namanya mulai dikenal di dunia batu, terutama sebagai spesialis batu pirus atau turquoise.
Tura mengoleksi sekitar 500 batu mulia dan permata dari berbagai daerah. Sebagian besar merupakan hasil perburuan pribadi maupun koleksi langka hasil pertukaran dengan sesama pencinta batu. Baginya, tiap batu punya cerita.
“Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Termasuk batu mulia dan permata sebagai aksesori manusia,” jelasnya.
Menurutnya, kekayaan alam Indonesia sangat luar biasa, termasuk batu mulia dan batu permata Nusantara yang keindahannya tak kalah dengan batu dari negara-negara lain.
Dia menyayangkan jika batu Nusantara hanya dipandang sebagai tren sesaat. Menurutnya, potensi batu permata Indonesia sangat besar, bahkan beberapa jenis seperti bacan, kalimaya, dan garut dikenal sebagai batu dengan kualitas terbaik di dunia.
“Di Tulungagung sendiri, komunitas pencinta batu cukup aktif. Dari anak muda sampai orang tua, banyak yang serius menekuni,” katanya bangga.
Namun, di balik pesona batu, Tura juga mengingatkan adanya risiko. Dia mengimbau para pemula untuk tidak membeli batu sembarangan dan jangan sungkan bertanya pada yang lebih ahli. “Banyak penipuan soal keaslian batu. Sayang kalau sudah keluar uang banyak, tapi ternyata palsu. Edukasi itu penting,” tegasnya.
Kini, semangat Tura bukan hanya pada koleksi dan kompetisi. Dia ingin membawa semangat pelestarian budaya dan kekayaan alam lokal ke generasi muda.
“Kalau bukan kita yang bangga pakai batu Nusantara, siapa lagi? Ini warisan yang harus kita jaga,” pesannya. (*/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah