TULUNGAGUNG – Cuaca dingin yang dikenal masyarakat sebagai musim bediding mulai terasa di berbagai wilayah Tulungagung.
Suhu udara yang menurun terutama pada malam hingga dini hari membuat warga Tulungagung beralih menikmati minuman hangat untuk mengusir rasa dingin.
Ronde, kopi hangat, dan wedang jahe menjadi pilihan utama masyarakat di Tulungagung. Selain menghangatkan tubuh, minuman-minuman ini juga dinikmati sambil berkumpul bersama keluarga atau teman di warung kopi, halaman rumah, atau sudut kota.
Fenomena bediding di Tulungagung merupakan hal lazim yang terjadi setiap musim kemarau, khususnya pada bulan Juli hingga Agustus.
Istilah ini digunakan masyarakat Tulungagung untuk menggambarkan hawa dingin ekstrem yang muncul saat suhu udara turun drastis akibat peralihan musim.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa penyebab utama hawa dingin ini adalah angin monsun Australia.
Angin tersebut membawa udara kering dan dingin dari selatan ke wilayah Indonesia, termasuk Tulungagung, Jawa Timur.
Tak hanya Tulungagung, sejumlah daerah lain di Jawa Timur juga mengalami penurunan suhu yang cukup signifikan.
Di Tulungagung sendiri, suhu minimum tercatat bisa mencapai 19 hingga 21 derajat Celsius, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Kecamatan Campurdarat dan Pagerwojo.
Kondisi cuaca bediding di Tulungagung ini mendorong meningkatnya aktivitas ekonomi di sektor kuliner, khususnya penjualan minuman hangat.
Warung kopi dan pedagang ronde di sekitar pusat kota, seperti Alun-Alun Tulungagung, mengalami lonjakan pengunjung sejak awal bulan.
Selain menjadi solusi untuk menghangatkan tubuh, kebiasaan menikmati minuman hangat juga telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tulungagung.
Di sejumlah desa, warga masih mempertahankan kebiasaan berkumpul di teras rumah sambil menikmati wedang atau kopi di tengah suasana malam yang dingin.
Musim bediding juga menjadi pengingat bagi masyarakat Tulungagung untuk menjaga kesehatan.
Suhu dingin yang menusuk bisa meningkatkan risiko terserang flu, masuk angin, atau kambuhnya penyakit pernapasan seperti asma.
Oleh karena itu, masyarakat Tulungagung dianjurkan mengenakan jaket tebal saat beraktivitas di malam hari.
Tak hanya itu, masyarakat Tulungagung perlu memperbanyak konsumsi makanan bergizi dan menjaga tubuh tetap hangat dengan minum minuman tradisional.
Selain menjadi momen untuk menikmati kehangatan, musim bediding di Tulungagung juga turut memperkuat rasa kebersamaan.
Aktivitas sederhana seperti menyeruput kopi bersama di warkop atau menikmati semangkuk ronde di tepi jalan menjadi cara masyarakat mengisi malam dengan keakraban dan kehangatan.
Di tengah suhu yang menurun, geliat ekonomi dan kehidupan sosial justru semakin terasa.
Pedagang musiman bermunculan, suasana malam jadi lebih ramai, dan warga tetap menjaga tradisi sambil beradaptasi dengan alam.
BMKG memperkirakan suhu rendah ini akan berlangsung hingga Agustus. Masyarakat Tulungagung diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem dan menjaga kondisi fisik agar tetap sehat selama musim kemarau berlangsung.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz