Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Hujan Deras di Kampung Tulungagung, Jemuran Masuk, Bocah-Bocah Malah Berpesta Air

Yoga Dany Damara • Sabtu, 12 Juli 2025 | 11:30 WIB

TULUNGAGUNG - Langit mendung menggantung sejak pagi di kampung kecil yang terletak di sudut Tulungagung, Jawa Timur.

Aroma tanah basah mulai tercium saat awan hitam pekat menutupi mentari di Tulungagung.

Sekitar pukul dua siang, suara gemuruh petir memecah keheningan, diikuti oleh guyuran hujan deras yang tiba-tiba turun tanpa ampun di Tulungagung.

Warga yang sebelumnya masih asyik beraktivitas di luar rumah langsung bergegas.

Para ibu rumah tangga terlihat sibuk mengangkut jemuran yang belum sempat kering, berlarian ke dalam rumah agar pakaian tidak semakin basah.

Sementara itu, para pedagang kaki lima buru-buru menutup lapak dagangannya agar tidak kehujanan.

Baca Juga: Anak Kampung Tulungagung Main Hujan dari Renang di Parit Sampai Kapal Daun Melaju

Namun, pemandangan berbeda justru datang dari sekelompok anak-anak kampung. Bagi mereka, hujan deras bukanlah bencana kecil seperti bagi orang dewasa.

Justru sebaliknya hujan adalah saat yang paling ditunggu-tunggu.

Dengan pakaian seadanya, beberapa bahkan masih mengenakan seragam sekolah yang belum sempat diganti, mereka melompat kegirangan begitu air mulai menggenang di pelataran rumah dan jalan-jalan kecil.

Gelak tawa mereka memecah suara hujan yang menghujam tanah. Mereka berlarian, menyipratkan air ke sana-sini, dan saling melempar senyum kebahagiaan yang polos.

Beberapa anak membawa ember kecil dan gayung, menjadikannya senjata untuk saling menyiram air ke tubuh satu sama lain.

Baca Juga: Air Terjun Coban Kromo Tulungagung, Pesona Alam Tersembunyi di Desa Pelem Campurdarat

Di tengah guyuran hujan itu, suasana kampung pun berubah. Dari suasana sibuk dan tergesa, kini berubah menjadi riuh dan ceria di sudut-sudut tertentu.

Jalanan becek yang biasanya dihindari, kini justru menjadi "lapangan bermain" penuh tawa dan sorak sorai.

Tak sedikit orang tua yang hanya bisa mengintip dari balik jendela, antara geli, pasrah, dan sedikit kesal melihat anak-anaknya basah kuyup. 

Meski terlihat sederhana, momen seperti ini menjadi kenangan tak terlupakan bagi anak-anak kampung.

Di tengah keterbatasan dan minimnya hiburan modern, hujan justru menjadi "berkah" kecil yang membawa kebahagiaan tersendiri.

Baca Juga: Hari Kedua Festival Budaya Spiritual 2025 Tulungagung, Jamasan Tombak Kyai Upas Jadi Pusat Perhatian

Fenomena seperti ini memang sudah menjadi tradisi tak tertulis di kampung-kampung.

Bagi sebagian anak-anak desa, hujan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dirayakan.

Dalam derasnya hujan, mereka menemukan kegembiraan, kebebasan, dan rasa kebersamaan yang tak bisa digantikan oleh gadget atau permainan digital.

Kini, ketika hujan mulai mereda dan langit perlahan-lahan cerah, para bocah itu kembali ke rumah masing-masing, menggigil kedinginan namun tetap tersenyum lebar.

Wajah-wajah polos mereka menunjukkan kepuasan setelah bermain air sepuasnya. Sementara itu, jemuran yang tak sempat diselamatkan kini hanya bisa digantung ulang, menanti sinar matahari esok hari. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#deras #hujan #tulungagung #mendung