Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Musim Hujan di Tulungagung Antara Nostalgia dan Aroma Tanah Basah

Yoga Dany Damara • Minggu, 13 Juli 2025 | 12:00 WIB
Ketika langit mulai menggelap dan rintik-rintik hujan jatuh membasahi bumi Tulungagung, kota ini seperti berubah menjadi ruang kenangan.
Ketika langit mulai menggelap dan rintik-rintik hujan jatuh membasahi bumi Tulungagung, kota ini seperti berubah menjadi ruang kenangan.

TULUNGAGUNG - Ketika langit mulai menggelap dan rintik-rintik hujan jatuh membasahi bumi Tulungagung, kota ini seperti berubah menjadi ruang kenangan.

Setiap tetes hujan di Tulungagung membawa aroma tanah basah yang khas wangi nostalgia yang membangkitkan ingatan masa lalu suara kodok dari sawah.

Kabut tipis menyelimuti perbukitan, dan jalan-jalan di Tulungagung yang terasa lebih lengang namun damai.

Musim hujan di Tulungagung bukan sekadar cuaca. Ia adalah suasana. Ada romantisme yang tak terucap ketika awan menggulung di langit, dan udara sejuk mulai meresap ke kulit.

Penduduk lokal pun seperti punya cara tersendiri untuk menikmati momen ini duduk di teras rumah sambil menyeruput teh hangat atau kopi tubruk, mendengarkan gemericik hujan yang jatuh di genteng.

Di tengah cuaca dingin, kuliner khas Tulungagung seolah makin menggoda. Tak ada yang bisa menolak semangkuk soto Tulungagung yang mengepul hangat dengan irisan daging sapi empuk dan taburan bawang goreng.

Atau lodho ayam, masakan bersantan dengan rasa pedas-rempah yang langsung menghangatkan tubuh sejak suapan pertama.

Untuk camilan, gethuk pisang dan onde-onde masih jadi favorit saat hujan turun. Teksturnya yang lembut dan manis cocok dinikmati sambil berbincang ringan bersama keluarga di rumah.

Jalanan yang biasanya riuh, kini terasa lebih tenang. Warung-warung kaki lima tetap setia melayani pembeli dengan menu hangat yang siap mengusir dingin.

Payung-payung warna-warni terlihat di trotoar, membawa warna dalam suasana kelabu.

Musim hujan di Tulungagung adalah tentang meresapi waktu yang berjalan lebih lambat.

Tentang menyambut rintik hujan bukan dengan keluh, tapi dengan rasa syukur. Di tengah rinainya, kota ini justru memperlihatkan sisi terbaiknya hangat, tenang, dan penuh kenangan. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#damai #hujan #tulungagung