TULUNGAGUNG– Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro, menyoroti minimnya kepedulian masyarakat terhadap kebudayaan lokal.
Dia menyebut, perlu berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Tulungagung untuk menanamkan nilai dan menggalang besar-besaran terhadap kepedulian budaya sejak bangku sekolah.
Hal tersebut dinilai sebagai pekerjaan rumah besar untuk kemajuan Tulungagung yang harus segera disasar dalam program kerja dinas ke depan.
“Menurut saya, kepedulian terhadap budaya masih kurang. Ini yang jadi PR kita bersama, terutama bagaimana menanamkan kesadaran budaya sejak dini,” ujar Johanes saat ditemui dalam sebuah forum kebudayaan, Jumat (12/7/2025).
Dia menjelaskan, sejak Kementerian Kebudayaan berdiri sendiri dan tidak lagi menjadi satu dengan Kementerian Pendidikan, terjadi kesenjangan dalam jangkauan program hingga ke akar rumput.
"Kalau guru itu punya struktur sampai ke bawah, tapi apakah guru ini memiliki ilmu kebudayaan? Itu yang belum kita pahami,” katanya.
Menurut Johanes, ada empat unsur pendidikan yang sebenarnya turut memegang tanggung jawab besar terhadap pelestarian budaya, yaitu guru sejarah, guru seni budaya, guru bahasa daerah, dan guru bahasa Indonesia.
Keempatnya, menurut dia, memiliki peran dalam mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada siswa, seperti melalui lomba-lomba geguritan dan kegiatan seni lainnya.
"Diawali untuk mengenalkan kepada seluruh anak didik dahulu. Kemudian akan timbul kecintaan dan kepedulian," ucapnya.
Namun yang menjadi perhatian, kata dia, adalah pendekatan budaya di sektor pendidikan yang selama ini masih cenderung hafalan semata, bukan penghayatan.
“Budaya itu bukan dihafal, tapi dihayati dan dijalankan dalam keseharian. Anak-anak sekarang lebih banyak menghafal, bukan melakoni dari hati,” terangnya.
Dia berharap ke depan ada sinergi antara kementerian, dinas pendidikan, guru, dan pemerintah daerah serta dinas kebudayaan dan pariwisata untuk menyelaraskan arah pendidikan kebudayaan di Tulungagung ini.
"Ini yang perlu dimatch-kan oleh negara. Agar budaya tidak hanya menjadi formalitas, tetapi betul-betul mendarah daging dan berkelanjutan,” pungkasnya. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah