TULUNGAGUNG – Kemarau basah yang masih melanda membuat petani tembakau di Tulungagung galau. Pasalnya, kondisi dikhawatirkan membuat proses tanam di periode tahun ini tak maksimal.
Bahkan, diprediksi produksi tembakau dari wilayah Tulungagung bakal turun hingga 50 persen.
Ketua kelompok tani (poktan) di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung Endri Cahyono mengungkapkan, tembakau merupakan jenis tanaman yang “tidak suka” air.
Nah, kondisi kemarau basah yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan petanai tembakau di Desa Kendabulur harus berpikir ulang sebelum mulai menanam tembakau.
“Jadi manakala kebanyakan air, yang jelas sangat terganggu sekali dengan musim seperti ini. Untuk tahun ini masih sedikit saja yang bisa tanam (tembakau),” ujarnya.
Dia mengatakan, luas lahan tembakau di Tulungagung berkisar 1.300 hingga 1.500 hektare (ha) setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 150 ha di antaranya ada di wilayah Desa Kendalbulur.
Meski luasan lahan cukup besar, Endri mengaku bahwa sampai pertengahan bulan ini belum banyak petani yang memilih untuk menanam tembakau.
“Untuk saat ini masih sedikit sekali yang bisa tanam dikarenakan kebanyakan lahannya itu masih tergenang air,” sebutnya.
Bahkan, masa tanam tembakau tahun ini juga mundur dari tahun-tahun sebelumnya. Endri mengaku, masa tanam tembakau biasa digelar pada periode Juni dan masa panen jatuh pada September.
“Tapi ini karena masa tanamnya itu sudah mundur satu bulan yang untuk wilayah Kendalbulur, ya mungkin akan sedikit mengurangi kualitas,” ungkapnya.
Berbagai faktor yang menajdi kendala di atas diprediksi membuat jumlah produksi tembakau di tahun ini bakal merosot tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kita sedikit banyak dapat (informasi dari) BMKG. Mungkin kok untuk di wilayah Tulungagung itu untuk tahun 2025 ini bisa Tanam 50 persen saja kok sudah Alhamdulillah,” kata Endri.
Belum berlalunya musim kemarau basah membuat para petani enggan menanam tembakau karena takut rugi. Akibatnya, para petani memilih untuk tetap menanam padi.
“Sebagian besar petani-petani yang ada di wilayah Tulungagung itu sudah alih tanam. Yang biasanya itu lahan tembakau, sebagian besar sudah dialihkan ke tanaman padi. Karena petani kan ndak bisa terlalu lama menunggu yang belum pasti,” tegasnya.
Untuk diketahui, 1 ha lahan sawah tembakau bisa menghasilkan sekitar 1,8 ton tembakau rajangan kering. Artinya, 1.500 ha lahan di Tulungagung bisa menghasilkan sekitar 2.700 ton tembakau rajangan kering dalam satu tahun.
Menurut Endri, bukan tidak mungkin jumlah produksi tembakau di tahun ini hanya mencapai sekitar 1.350 atau turun 50 persen dari total produksi di kondisi normal.
Keterbatasan stok dari petani di masa panen tentu juga akan berdampak apda meningkatnya harga barang di pasaran.
“Jadi mau ndak mau nanti harganya mesti mahal. Dari tahun kemarin itu di tingkat petani yang super itu Rp120-125 (ribu per kilogram). Mungkin paling tidak nanti kalau bisa panen untuk di wilayah kami atau di Kelompok Tani Makmur itu akan mencapai harga Rp 150 per kilo rajangan kering,” akunya.
Mengingat proses tanam tembakau di wilayah Desa Kendalbulur baru bsia digelar pada Juli, maka masa panen akan jatuh pada Oktober mendatang.
Potensi panen dini bisa dilakukan jika kondisi cuaca tetap tak menentu. Tapi, hal ini hanya akan dilakukan jika curah hujan yang terjadi di wilayah Tulungagung terbilang tinggi.
“Senyampang hujannya tidak terus menerus, ya tidak apa-apa. Tapi kalau sudah diguyur tiga hari berturut-turut, secara otomatis juga tembakau itu walaupun gak kebanjiran banyak yang layu,” tandasnya. (dit/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah