TULUNGAGUNG - Musim kemarau di Tulungagung selalu punya cerita sendiri.
Meski panas menyengat dan debu jalanan di Tulungagung beterbangan, ada sisi lain yang justru bikin rindu. Kota ini tetap hidup dan hangat, dalam arti yang sesungguhnya.
Begitu matahari mulai tinggi, aroma tanah kering tercium jelas. Sawah-sawah di Tulungagung yang dulu hijau kini mulai retak, seperti kulit yang terlalu lama terkena sinar matahari.
Petani-petani tetap setia menyiram tanaman dengan sisa-sisa air dari sumur, meski debitnya mulai turun. Aktivitas mereka tidak pernah benar-benar berhenti hanya sedikit melambat, mengikuti ritme alam yang berubah.
Di siang hari, jalanan terasa lengang. Banyak orang memilih berteduh, menunggu sore datang. Tapi saat malam tiba, suasana berubah.
Angkringan-angkiringan di pinggir jalan kembali hidup. Aroma sate usus, nasi kucing, dan gorengan mulai mengudara.
Obrolan ringan ditemani teh panas atau kopi hitam jadi pengusir lelah, seolah panas siang tadi tak pernah ada.
Kemarau juga membawa langit yang jernih. Bintang-bintang lebih mudah terlihat, dan senja Tulungagung terasa lebih dramatis warna jingganya bisa membuat siapa saja berhenti sejenak hanya untuk menikmatinya.
Meski kadang melelahkan, musim kemarau di Tulungagung adalah musim yang jujur.
Namun mengajarkan kesederhanaan, kesabaran, dan bagaimana menikmati hal-hal kecil dalam keseharian.
Panasnya memang menyengat, tapi suasananya justru bikin kangen. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah