TULUNGAGUNG - Di sudut-sudut jalan Tulungagung yang masih tenang di pagi hari, terdengar denting lonceng sepeda yang khas.
Di Tulungagung bukan sekadar suara logam yang beradu, tapi isyarat sederhana "Permisi," atau mungkin, "Selamat pagi."
Di antara jalan kampung dan trotoar kota, budaya ramah-tamah di Tulungagung itu dulu begitu hidup saling menyapa meski tak saling kenal, saling senyum walau hanya berpapasan.
Tulungagung punya kebiasaan ringan tapi bermakna menyapa siapa pun yang ditemui, entah itu tetangga sebelah rumah, tukang sayur langganan, atau bapak-bapak yang menyiram halaman di pagi hari.
Anak-anak yang pulang sekolah pun terbiasa mengangguk hormat kepada orang yang lebih tua. Sopan santun bukan sesuatu yang diajarkan secara kaku, melainkan tumbuh dari keseharian yang penuh kehangatan.
Namun, seiring waktu, budaya ini mulai memudar.
Gawai mengalihkan pandangan, dinding rumah makin tinggi, dan ritme hidup yang makin cepat membuat banyak orang lupa untuk sekadar mengangkat tangan, tersenyum, atau menyapa nama tetangga di ujung gang.
Padahal, kekuatan sosial Tulungagung justru terletak pada hal-hal kecil semacam itu. Budaya sapa bukan cuma etika, tapi jembatan antar manusia.
Sapaan ringan bisa jadi awal dari gotong royong, dari rasa peduli, dari komunitas yang saling menjaga.
Kini, saat segalanya terasa makin individual, mungkin sudah waktunya kita menghidupkan kembali kebiasaan sederhana itu.
Tak harus muluk-muluk cukup dengan senyum di jalan, anggukan ramah saat berpapasan, atau sesekali mengetuk pagar tetangga hanya untuk bilang, “Sehat, Pak?”.
Karena di balik denting lonceng sepeda dan sapaan pagi yang mungkin terdengar sepele, tersimpan benih-benih kerukunan yang menjaga Tulungagung tetap hangat dan bersahabat. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah