TULUNGAGUNG- Bergumul dengan dunia seni sejak belia, membuat gadis asal Tulungagung Altasya Iwanda Kairala mantap memilih tari sebagai bidang untuk ditekuni.
Bahkan berbagai lomba di berbagai tingkatan, dilakoni warga Desa/Kecamatan kalidawir, Kabupaten Tulungagung demi memperdalam ilmu di seni tari tradisional. Termasuk saat dia mendapat juara di lomba tari tradisional tingkat provinsi.
Kecintaannya di dunia seni diturunkan dari sang ayah yang juga seorang seniman. Sejak belia, perempuan yang karib disapa Keke ini sering diajak ayahnya yang seorang pengrawit manggung dari satu tempat ke tempat lain di Tulungagung.
Dari sana dia mulai tertarik belajar seni tari tradisional. “Mungkin dari saya TK sudah naik panggung,” tandasnya.
Bakatnya makin terasah. Seiring berjalannya waktu, orang tuanya memutuskan untuk mengikutisertakan Keke kursus menari saat dia duduk di bangku kelas II SD.
“Beranjak remaja, kelas VIII SMP saya masuk ke sanggar seni Lestari Widodo Wiryotomo. Dan di situ saya sebagai seorang penari,” ucap perempuan kelahiran Blitar, 25 Maret 2006 ini.
Baca Juga: 7 Cara Efektif Orang tua di Tulungagung Menyiapkan Anak Menghadapi Hari Pertama Masuk Sekolah Dasar
Karena lokasi sanggar terbilang jauh dari rumahnya yang berada di Kecamatan Kalidawir, Keke biasa diantar olah ayahnya saat hendak berkegiatan di sanggar.
Sembari terus mengasah keterampilannya di lingkungan sanggar, dia juga memberanikan diri untuk ikut serta di berbagai ajang perlombaan di berbagai tingkatan.
“Di Kabupaten Tulungagung itu sendiri juga pernah juara 1, 2, 3. Terus untuk di Surabaya itu saya pernah juara 2. Habis itu lomba lagi ke Surabaya itu juara 1 dan mendapatkan piala (juara) umum,” jelasnya.
“Habis itu pernah lomba tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia dan itu saya pulang mendapatkan juara harapan 2,” imbuhnya lagi.
Dari sekian banyak lomba yang dia lakoni, GP Fest 2023 jadi gelaran yang paling berkesan. Bukan hanya karena juara 1 yang dia raih di kompetisi tari tradisional tingkat provinsi itu.
Tapi juga soal cerita dan perjuangan yang dia lakoni hingga meraih gelar sebagai penari tradisional terbaik di tingkat Jawa Timur (Jatim).
Kurang dari sebulan dari hari balapan, Keke mengalami kecelakaan lalu lintas. Akibatnya, dia harus tampil di balapan dengan kondisi yang kurang optimal.
Menahan sakit di bagian kaki dan tangan saat sedang menari jadi tantangan yang harus dia hadapi dan lakoni. Tapi, perjuangannya terbayar. Gelar juara 1 dia bawa pulang ke Tulungagung.
Baca Juga: 7 Hal yang Perlu Dipersiapkan Mahasiswa Baru Sebelum Masuk Universitas di Tulungagung
“Waktu proses dalam lomba itu saya mengalami kecelakaan yang membuat saya kayak terharu dapat jaura 2 dan dapat piala umum,” kata perempuan 19 tahun ini.
Meski begitu, mahasiswi jurusan Pendidikan Seni Tari dan Musik di Universitas Negeri Malang (UM) ini mengaku kadung cinta di dunia seni tari. Itu sebabnya dia enggan melepaskan diri dari dunia tari.
Terlebih lagi, bisa dibilang bidang seni ini juga cukup menghasilkan jika ditilik dari segi nominal. Menurut dia, ini jadi bonus baginya sebagai seorang pelaku seni.
“Kebanyakan orang bilang pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Jadi saya sekarang kuliah ya disambi sama ngejob, nari ke sana ke sini, lomba,” tandasnya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah