TULUNGAGUNG - Jumlah produksi sampah di Tulungagung terpantau meningkat setiap tahun. Hal itu diakibatkan oleh perubahan gaya hidup di masyarakat.
Sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Segawe Tulungagung yang justru makin menyusut.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, jumlah produksi sampah di tahun lalu mencapai rata-rata sekitar 110 ton per hari.
Jumlah itu meningkat sekitar 115 hingga 120 ton per hari di enam bulan pertama tahun ini. Ada berbagai hal yang melatari meningkatnya jumlah produksi sampah harian.
“Kalau faktor banyak sekali. Kalau sekarang kan sudah mulai banyak kayak kemasan-kemasan produk sekali pakai. Terus ada juga peningkatan ekonomi. Karena kalau ekonomi naik, otomatis sampahnya juga pasti akan naik,” ujar Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Tulungagung, Yudha Yanuar Hadi, Senin (15/7/2025).
Peningkatan jumlah pelanggan layanan angkut sampah juga jadi salah satu indikator bertambahnya jumlah produksi sampah di tahun ini.
Menurut Yudha, selama ini DLH melayani jasa angkut sampah ke berbagai kalangan. Mulai dari pemdes, puskesmas, dan berbagai lembaga lain.
“Kalau tahun 2025 ini sekitar delapan (tambahan pelanggan). Kalau dengan total itu keseluruhan mulai dari desa kelurahan fasum terus perusahaan, sekolah, puskesmas, dan lain-lain sekitar 185 TPS yang kita angkut setiap hari,” sebutnya.
Jenis sampah yang diangkut sebagian besar merupakan sampah rumah tangga. Yaitu, mencapai sekitar 65 persen dari total jenis sampah yang diangkut oleh DLH.
Sayangnya, peningkatan produksi sampah di tingkat kabupaten ini tidak dibarengi dengan kapasitas TPA yang makin lega.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapasitas TPA Segawe terus mengalami penyusutan dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau (berdasarkan penelitian) dari tim Brawijaya kemarin yang dilaksanakan tahun 2020 kalau ndak salah, itu untuk TPS Segawe sendiri usianya mungkin bisa dikatakan overload di tahun 2029-2030,” ungkap Yudha.
Kondisi itu membuat pemkab berencana melakukan perluasan TPA Segawe. Tapi, tentu hal ini perlu komunikasi intens dengan lintas sektor, termasuk pihak Perhutani selaku pengampu wilayah.
“Di sisa waktu itu kita juga terus berproses untuk perluasannya. Antara 5 sampai 15 hektare rencana perluasannya,” katanya.
Itu sebabnya, lanjut Yudha, perlu dilakukan pemilahan sampah sejak dari tangan masyarakat.
Dengan demikian, jumlah sampah yang dibuang di TPA bisa dikurangi.
Di sisi lain, sampah berpotensi untuk didaur ulang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang berdampak pada peningkatan ekonomi.
“Kami pun tidak henti-hentinya melakukan sosialisasi ke masyarakat melalui desa, kemudian melalui sosial media, dan lain-lain bahwa tidak semua sampah itu harus dibuang ke tempat sampah,” sebutnya.
“Mungkin ada sampah yang bisa dimanfaatkan, seperti botol, kertas, terus kardus, dan lain-lain tidak perlu kita buang ke tempat sampah,” tegasnya.
Dia menambahkan, sampah daur ulang memang tidak seharusnya dibuang sembarangan ke tempat sampah. Sayangnya, kebiasaan masyarakat untuk buang sampah sembarangan masih jadi kendala.
“Seharusnya yang dibuang ke tempat sampah itu hanya residu. Namun sekali lagi, kembali kita ke kebiasaan. Karena biasanya orang yang sudah berlangganan sampah itu (berpikir) wong aku wes bayar kok ( saya sudah bayar kok), kenapa harus memilah,” pungkasnya. (dit/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah