TULUNGAGUNG - Dulu, menjelang senja di kampung-kampung Tulungagung, suara tawa anak-anak bersahut-sahutan. Mereka berlarian di halaman rumah, di tanah lapang, atau di jalanan kampung yang sepi dari kendaraan.
Permainan tradisional seperti petak umpet, lompat tali, bentengan, dan engklek menjadi rutinitas tak tertulis anak-naka Tulungagung yang selalu dinantikan selepas pulang sekolah.
Adzan magrib berkumandang di Tulungagung penanda waktu untuk pulang, bukan karena lelah, tapi karena orangtua sudah mulai memanggil dari dalam rumah.
Kini, pemandangan itu mulai langka. Halaman kosong tergantikan pagar tinggi, tanah lapang berganti bangunan, dan jalanan kampung lebih ramai kendaraan.
Namun yang paling terasa, bukan hanya ruang fisik yang berubah, tapi juga dunia anak-anak itu sendiri.
Gawai kini menjadi teman bermain utama. Anak-anak lebih sering tertunduk menatap layar ketimbang saling mengejar di bawah langit senja.
Bukan berarti kemajuan teknologi harus ditolak. Tapi barangkali kita mulai rindu pada masa di mana keringat dan debu di kaki menjadi tanda kebahagiaan.
Di masa ketika tali dari karet gelang, batok kelapa, hingga kapur tulis sisa pelajaran bisa berubah menjadi alat permainan seru. Tak butuh WiFi, tak butuh daya baterai, cukup tawa, imajinasi, dan kebersamaan.
Di beberapa sudut Tulungagung, mungkin masih ada anak-anak yang bermain gobak sodor atau egrang bambu, tapi jumlahnya makin sedikit. Permainan tradisional kini lebih sering tampil dalam lomba 17-an daripada jadi kegiatan harian.
Padahal, permainan itu bukan sekadar hiburan. Ia mengajarkan kerja sama, ketangkasan, hingga keberanian berinteraksi sosial.
Malam ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri atau mungkin pada anak-anak kita: “Kapan terakhir kali bermain di luar sampai maghrib?” Jika jawabannya sudah tak ingat, mungkin inilah saatnya kita bantu mereka mengenal kembali keseruan tanpa layar.
Karena sesungguhnya, tak ada kenangan masa kecil yang lebih membekas selain tawa bersama teman sepermainan, di bawah langit jingga Tulungagung yang dulu hangat menyambut. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah