TULUNGAGUNG- Di sudut-sudut Tulungagung, tepatnya di dekat pagar sekolah dasar atau di bawah pohon rindang di pinggir jalan, pernah ada dunia kecil yang begitu meriah.
Dunia itu bukan taman bermain atau layar gawai, melainkan deretan toples kaca, plastik warna-warni, dan kotak pendingin penuh es lilin. Ya, di sanalah “jajanan 500-an” menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil banyak anak Tulungagung.
Permen gulali dan tangan lengket bahagia, dengan warna merah muda atau hijau terang, dibentuk oleh tangan cekatan menjadi bunga mawar atau burung. Anak-anak di Tulungagung mengerubungi si penjual, menunjuk sambil senyum-senyum malu.
Tak peduli tangan menjadi lengket atau semut mengintai, satu hisapan gulali seolah jadi tiket menuju surga kecil di jam istirahat.
Rambut nenek aneh, tapi bikin nagih siapa yang bisa lupa dengan "rambut nenek"? Jajanan manis berserat halus seperti kapas ini dinamai begitu karena teksturnya yang ringan dan rapuh, seperti uban halus.
Dibungkus daun pisang atau plastik bening, jajanan ini terasa istimewa meski sederhana. Manisnya lembut, dan cara menikmatinya yang perlahan-lahan membuatnya jadi teman setia saat duduk-duduk bersama teman.
Es lilin dan cerita di siang terik saat pulang sekolah dan matahari sedang terik-teriknya, ada satu harapan yang selalu dinanti: es lilin.
Warnanya bisa pink, hijau, atau cokelat tergantung rasa dan pewarnanya. Tak ada freezer canggih, hanya termos es dan suara khas tutup seng yang dibuka.
Tapi dari situlah kebahagiaan sederhana muncul. Anak-anak menyeruputnya pelan-pelan, agar tidak cepat habis, seolah memperpanjang kenangan.
Jajanan sebagai bahasa masa kecil di balik murahnya harga, jajanan 500-an bukan sekadar cemilan. Ia adalah bahasa universal anak-anak.
Tempat anak belajar menawar, berbagi, dan bahkan menyimpan uang saku agar bisa beli dua permen sekaligus besok.
Warung-warung kecil di depan sekolah menjadi saksi bisu tawa, kekecewaan saat kehabisan, dan senyum penuh kemenangan saat bisa membeli jajan favorit.
Kini, saat banyak anak lebih akrab dengan makanan kemasan modern atau camilan digital di layar, jajanan 500-an mungkin perlahan memudar.
Tapi di hati generasi yang pernah mencicipinya, kenangan itu tetap hangat. Tangan kecil yang dulu menggenggam permen kapas atau es lilin itulah yang kini membawa cerita, bahwa bahagia tidak selalu mahal kadang hanya seharga lima ratus rupiah. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah