TULUNGAGUNG – Fenomena sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) di Tulungagung yang hanya mendapat sedikit siswa baru, seperti yang terjadi di SDN 2 Kedungwaru yang hanya menerima dua murid pada tahun ajaran baru 2025, bukanlah hal baru.
Dewan Pendidikan Kabupaten Tulungagung menilai kondisi ini sudah berlangsung lama dan perlu perhatian serius dari pihak terkait.
"Persoalan ini sudah terjadi bahkan sejak dua dekade terakhir," terang Anggota Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Tulungagung, Ahmad Syifa, Rabu (16/7/2025).
"Bukan hanya SD di Tulungagung, bahkan ada SMP negeri yang daya tampungnya 210 siswa, tapi hanya terisi 12 siswa waktu itu," imbuhnya.
Akibatnya, kata dia, sejumlah desa di Tulungagung sempat mengalami proses regrouping atau penggabungan beberapa SD menjadi satu. Hal ini menyebabkan banyak gedung sekolah negeri terbengkalai dan kurang terurus.
“Biasanya, kalau mengurus hal-hal penting seperti ini, para pejabat yang berwenang tidak begitu peduli. Karena tidak ada keuntungan secara pribadi, meskipun ini seharusnya menjadi tanggung jawab mereka karena menyangkut aset daerah,” tegasnya.
Menurut Syifa, penyebab minimnya perolehan siswa di SD negeri cukup kompleks.
Dia mencatat ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini, antara lain dipengaruhi oleh perubahan pola pikir masyarakat.
"Masyarakat kini lebih mengutamakan mutu pendidikan ketimbang status sekolah negeri," ujarnya.
Dia melanjutkan, saat ini semakin banyak sekolah swasta yang dikelola dengan baik sehingga memiliki mutu tinggi.
Sementara banyak sekolah negeri dikelola apa adanya dengan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas.
"Reputasi dan prestasi sekolah swasta yang membuatnya lebih diminati orang tua, sehingga sekolah negeri hanya menjadi alternatif saja," lanjutnya.
Selain itu, kebutuhan akan pendidikan religius dinilai lebih kuat ditawarkan oleh sekolah swasta dibandingkan sekolah negeri, meski beberapa sekolah negeri mulai mengadopsi pendekatan serupa.
“Jadi memang persoalannya kompleks. Dan sekarang pola pikir masyarakat terhadap pemilihan sekolah juga berbeda-beda,” pungkasnya. (sri/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah