TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, pagi hari tak pernah benar-benar dimulai tanpa kehadiran pecel. Makanan sederhana ini seolah menjadi alarm rasa yang membangunkan indera dan semangat warga.
Tak peduli apakah itu di emperan pasar, pinggir jalan kampung, atau di teras rumah yang disulap menjadi warung dadakan, pecel selalu hadir sebagai penyambut hari yang setia di Tulungagung.
Pecel khas Tulungagung bukan sekadar nasi dan sambal kacang. Di atas piring anyaman atau bungkus daun pisang, tersaji daun singkong, kenikir, kecambah, hingga mentimun.
Semua disiram sambal kacang yang gurih manis, kadang ditambah remasan daun jeruk purut yang menambah segar. Lauknya bisa sederhana tempe goreng, kerupuk gendar, atau telur ceplok. Tapi justru dari kesederhanaan itulah, pecel mendapatkan tempat istimewa di hati.
Penjualnya pun punya cerita. Ada ibu-ibu yang sudah sejak subuh mempersiapkan bumbu, mengukus nasi, dan menyusun sayur-sayuran. Ada yang mangkal di depan gang, ada pula yang menetap di sudut pasar Wage.
Sebagian sudah dikenal langganannya hingga bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Tak sedikit warga yang memilih sarapan pecel sebelum berangkat kerja, sekolah, atau sekadar memulai rutinitas pagi.
Pecel pagi di Tulungagung bukan cuma soal kenyang. Ia adalah bagian dari ritme kota: aroma sambal kacang yang menyapa dari kejauhan, suara ramai pembeli yang antre, dan tegur sapa ringan yang menghangatkan suasana.
Makanan ini mengajarkan satu hal sederhana bahwa rasa nyaman dan kenangan kadang datang dari sepiring menu warisan yang terus hidup dalam keseharian.
Dan begitulah, setiap pagi di Tulungagung, pecel bukan sekadar pilihan. Ia adalah kebiasaan. Sebuah tradisi kuliner yang membaur dengan denyut nadi kota. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah