TULUNGAGUNG - Setiap sore di depan sekolah dasar di Tulungagung, ada pemandangan yang selalu terasa akrab dan hangat.
Bel pulang berdenting, menjadi aba-aba kebebasan bagi anak-anak di Tulungagung setelah seharian duduk di bangku kelas.
Dari dalam pagar, anak-anak di Tulungagung berlarian keluar dengan seragam yang mulai kusut, tas digendong asal, dan wajah berseri menanti sesuatu yang lebih menggoda dari pelajaran hari itu: jajanan.
Di sisi jalan, para penjual kaki lima sudah bersiap. Ada yang mendorong gerobak cilok dengan suara khas "tek-tek" dari kayu dipukul, ada pula penjual telur gulung yang minyaknya berdesis riuh saat tusukan bambu diputar-putar.
Tak ketinggalan es mambo warna-warni yang dijajakan dari termos besar, membuat mata anak-anak langsung berbinar.
Ibu-ibu berdiri di bawah pohon, menunggu sambil mengobrol ringan tentang harga minyak goreng, PR anak, atau rencana akhir pekan.
Kadang, mereka ikut tergoda membeli cilok satu bungkus, sekadar menemani anak atau nostalgia masa kecil.
Di tengah keramaian, tawa anak-anak berpadu dengan teriakan penjual, aroma saus kacang yang menggoda, dan suara sepeda motor yang melintas.
Baca Juga: Untuk Siswa Baru di Tulungagung, Ada 7 Cara Cepat Bersosialisasi di Lingkungan Sekolah
Suasana seperti ini bukan hanya tentang transaksi jajanan sore. Ia adalah peristiwa kecil yang menyimpan kehangatan sosial: interaksi antarwarga, rezeki para pedagang, serta kenangan masa kecil yang kelak akan disimpan dalam-dalam oleh anak-anak Tulungagung.
Karena di depan SD yang sederhana itu, hidup berlangsung dalam bentuk yang paling jujur dan membahagiakan tawa, rasa lapar, dan sedikit uang jajan yang selalu cukup untuk sebuah kebahagiaan kecil. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah