TULUNGAGUNG - Senja di Tulungagung tak pernah benar-benar sepi. Ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berubah jingga, suasana kota justru hidup dengan cara yang tenang.
Di pinggir jalan, depan rumah, hingga pojok pasar, warung-warung kecil di Tulungagung mulai ramai. Meja sederhana dipenuhi tampah berisi gorengan hangat, panci kolak yang mengepul, dan es dawet yang siap disendokkan ke plastik bening.
Meski bukan bulan Ramadan, nuansa sore di Tulungagung seperti ini seolah tak pernah pergi.
Banyak yang mengira takjil hanya laku keras saat puasa, tapi di Tulungagung, kolak pisang, gorengan tempe, hingga lupis dengan gula merah cair tetap jadi primadona setiap hari.
Sore menjelang magrib memang punya tempat tersendiri di hati warga. Setelah aktivitas seharian, saat tubuh ingin rehat sejenak, jajanan ringan ini menjadi teman setia.
Beberapa orang membeli untuk dibawa pulang, sebagian lagi memilih duduk sejenak di kursi plastik depan warung, menyeruput teh hangat sambil menunggu suara azan menggema dari masjid terdekat.
Ngabuburit yang identik dengan Ramadan di Tulungagung seperti menjadi kebiasaan harian.
Ada semacam ritme tak terucap yang menyatukan warga membeli jajanan sore, berbagi cerita ringan, dan menikmati waktu menjelang malam.
Suara motor lalu-lalang, anak-anak pulang dari mengaji, dan aroma gorengan yang menyeruak bercampur menjadi pemandangan khas.
Bahkan ketika langit mulai gelap, dan azan magrib berkumandang, warung-warung itu belum sepenuhnya tutup. Masih ada yang mampir, masih ada yang ingin menikmati sisa sore.
Kehangatan ini bukan tentang makanan semata. Ia tentang kebiasaan, tentang waktu yang pelan-pelan dirayakan.
Di Tulungagung, sore hari adalah waktu untuk menepi, mengisi ulang energi, dan merasa dekat baik dengan sesama maupun dengan suasana kota yang selalu tahu cara menyambut pulang. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah