TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, ada satu kebiasaan yang tampak biasa tapi diam-diam menyimpan makna mendalam ngopi di teras rumah.
Pagi hari saat matahari baru naik atau sore menjelang senja di Tulungagung, aroma kopi hitam dari cangkir-cangkir sederhana seringkali jadi penanda dimulainya obrolan santai antar tetangga.
Tak perlu kafe mewah atau mesin kopi canggih. Cukup kopi tubruk panas, gula secukupnya, dan beberapa kursi plastik di teras. Dari sanalah silaturahmi di Tulungagung terjaga.
Obrolannya pun tak pernah berat. Kadang soal cuaca yang makin panas, harga cabai yang naik turun, hingga gosip kampung yang selalu punya versi terbaru.
Di beberapa kampung, kebiasaan ini seperti jadwal tak tertulis. Setiap sore, orang-orang tahu ke mana harus pergi: ke teras Pakde, ke warung Bu Siti, atau sekadar nongkrong di depan rumah sambil menunggu teman ngobrol lewat.
Tak jarang, kopi jadi pembuka jalan untuk menyelesaikan selisih paham, menyambung kembali sapa yang sempat hilang, atau sekadar berbagi cerita ringan yang membuat hari terasa lebih hangat.
Ngopi di teras adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa jadi perekat sosial. Bahwa kedekatan tak harus dikejar lewat teknologi, cukup dengan secangkir kopi dan telinga yang mau mendengar.
Di tengah dunia yang makin cepat dan sibuk, budaya ngopi di teras Tulungagung adalah pengingat kecil bahwa kebersamaan bisa tumbuh dari hal-hal paling sederhana. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah