TULUNGAGUNG- Meski banyak orang terus melaju dengan kendaraan bermotor yang makin canggih, becak di Tulungagung tetap berjalan pelan, menyusuri jalanan kota seperti dulu.
Di balik kemudi sederhana itu, ada sosok-sosok di Tulungagung yang tak pernah berpaling dari pekerjaan lamanya penarik becak yang setia pada kayuhan dan cerita.
Dulu, becak menjadi andalan banyak warga mengantar anak ke sekolah, berbelanja ke pasar, atau sekadar jalan-jalan sore di sekitar alun-alun Tulungagung.
Waktu berjalan, dan perannya tergeser oleh ojek online, angkot, hingga kendaraan pribadi. Namun, sebagian becak masih bertahan, terutama di sekitar pasar tradisional dan kawasan sekolah.
Para penariknya tak hanya mengantar penumpang. Mereka juga menjadi saksi hidup dari perubahan kota: toko-toko tua yang berubah jadi minimarket, lapangan yang kini jadi pusat kuliner, atau gang-gang kecil yang kini makin sepi.
Dari jok belakang becak, kota ini dilihat dari sudut yang berbeda lebih pelan, lebih manusiawi.
Meski pendapatan tak menentu, semangat mereka tak mudah padam. Becak kini bukan lagi alat transportasi utama, melainkan bagian dari identitas kota.
Sesekali masih terlihat penumpang anak kecil yang ingin mencoba, wisatawan lokal yang ingin bernostalgia, atau warga yang memang setia naik becak sejak dulu.
Di tengah laju modernitas, becak di Tulungagung masih berjalan. Pelan, tapi pasti. Menjadi simbol keteguhan, kesederhanaan, dan kisah panjang kota yang tak pernah benar-benar ditinggalkan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah