Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Peta Rasa Tulungagung Lewat Nasi Bungkus Murah, Mengenyangkan, dan Sarat Nostalgia

Yoga Dany Damara • Minggu, 20 Juli 2025 | 13:00 WIB
daging-empuk-dan-pilihan-membuat-nasi-pindang-lebih-nendang
daging-empuk-dan-pilihan-membuat-nasi-pindang-lebih-nendang

TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, pagi bukan sekadar waktu memulai aktivitas, tapi juga momen berburu nasi bungkus.

Mulai dari lapak pinggir jalan hingga pasar subuh, pemandangan ibu-ibu dengan rantang atau pekerja berhelm menggenggam bungkus nasi jadi rutinitas yang tak lekang oleh waktu di Tulungagung.

Di balik kertas minyak dan daun pisang itu, tersimpan peta rasa khas Tulungagung yang sederhana, tapi menggugah.

Ragam isi, satu cinta nasi bungkus khas Tulungagung jangan remehkan harga lima sampai tujuh ribuan.

Nasi bungkus di Tulungagung hadir dengan isi yang tak pelit: nasi hangat, oseng tempe lombok ijo, tahu bacem, telur pindang, kadang ditambah urap atau sambal terasi yang membakar lidah.

Beberapa penjual bahkan menyelipkan kerupuk remuk dan sepotong timun, sebagai penyeimbang rasa.

Jenisnya pun beragam. Ada nasi oseng tempe favorit pekerja proyek, nasi urap daun pepaya yang digemari ibu-ibu pasar, hingga nasi campur dengan lauk lengkap buat bekal ke sawah.

Setiap bungkus punya cerita tentang tangan-tangan ibu yang bangun sebelum subuh, tentang pelanggan setia yang hafal letak lapak meski tanpa plang.

Lapak-lapak yang tak pernah tidur, pasar-pasar tradisional seperti Pasar Ngemplak atau Pasar Wage jadi titik utama perburuan nasi bungkus.

Di luar pasar, warung tenda dan lapak dadakan bermunculan sejak pukul 04.00 pagi. Para penjual biasanya membawa dagangan dari rumah, digendong atau dinaikkan ke sepeda motor.

Waktu jualannya tak lama paling banter sampai pukul 07.00, setelah itu habis.

Yang menarik, beberapa titik nasi bungkus legendaris bahkan tak punya nama. Orang hanya menyebutnya “nasi bungkus pojok gang,” atau “nasi tempe mbah-mbah depan masjid.”

Namun, soal rasa? Sudah puluhan tahun tak pernah mengecewakan.

Lebih dari sekadar sarapan bagi warga Tulungagung, nasi bungkus bukan sekadar sarapan murah meriah.

Nasi bungkus adalah kenangan masa kecil, pengganjal perut saat sekolah, teman begadang, atau bahkan hantaran saat hajatan. Bungkusnya sederhana, tapi rasanya membekas.

Di tengah gempuran makanan kekinian, nasi bungkus tetap bertahan diam-diam tapi pasti. Ia menyuguhkan kehangatan rumah, rasa yang akrab, dan harga yang ramah di kantong.
Karena di Tulungagung, rasa terbaik sering kali ditemukan dalam bungkus sederhana. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #nasi #rasa #Bungkus #murah