TULUNGAGUNG - Ramuan pahit, warisan sehat dari leluhur di tengah modernisasi yang menyentuh hingga pelosok desa, ada kebiasaan kuno yang tetap lestari di sebagian wilayah pedesaan Tulungagung ngombe daun sirih.
Sekilas terdengar aneh bagi generasi muda apalagi di era teh boba dan kopi kekinian namun minum rebusan daun sirih, air kelor, atau jamu pahit buatan sendiri masih menjadi rutinitas yang tak tergantikan bagi sebagian warga Tulungagung.
Di dapur-dapur sederhana rumah warga desa di Tulungagung, biasanya ada panci khusus untuk merebus ramuan tradisional. Daun sirih dicuci, direbus dengan air bersih, kadang dicampur dengan rempah lain seperti jahe, sereh, atau kunyit.
Hasilnya adalah cairan hangat berwarna kecokelatan dengan rasa yang tak bersahabat di lidah, tapi dipercaya menyimpan banyak manfaat.
“Enak ora enak, sing penting sehat,” begitu kira-kira filosofi yang diyakini oleh para orang tua.
Kebiasaan ini diturunkan dari generasi ke generasi. Dulu, ketika obat-obatan modern belum mudah diakses, masyarakat mengandalkan alam.
Daun sirih dikenal punya khasiat antiseptik, jamu kelor diyakini memperkuat daya tahan tubuh, dan rebusan empon-empon dipercaya sebagai ‘vaksin alami’.
Bagi warga desa, minum jamu bukan sekadar menjaga kesehatan, tapi juga bentuk menghormati warisan leluhur.Di era media sosial, tradisi ini mulai menarik perhatian anak muda.
Beberapa konten kreator lokal bahkan membuat video lucu tentang “pertama kali ngombe jamu buatan simbah”, lengkap dengan ekspresi meringis dan gelas dari kaleng jadul.
Kebiasaan yang dulunya dianggap biasa saja kini justru jadi daya tarik budaya. Tradisi ini bukan hanya soal rasa, tapi tentang identitas, kedekatan dengan alam, dan cara unik desa menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa.
Di balik kepahitan rebusan sirih atau kelor, tersimpan pesan tak semua yang pahit harus dihindari.
Kadang justru di situlah letak penyembuhannya. Maka jangan heran jika suatu hari Anda berkunjung ke desa di Tulungagung dan ditawari “wedang sirih” oleh simbah-simbah anggap saja itu versi lokal dari minuman kesehatan alami yang kini dicari-cari di kota.
Karena di desa, kesehatan masih bisa datang dari kebun belakang rumah. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah