Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menjelang Senja di Tulungagung, Nikmati Pinggiran Jembatan Gantung Moyoketen, Tradisi Main Layangan Kembali Hidup

Rinto Wahyu Hidayat • Senin, 21 Juli 2025 | 01:15 WIB
Setiap jelang sore hari, kawasan pinggiran jembatan gantung Moyoketen, Tulungagung, mendadak hidup dengan riuh suara tawa dan seru sorak warga.
Setiap jelang sore hari, kawasan pinggiran jembatan gantung Moyoketen, Tulungagung, mendadak hidup dengan riuh suara tawa dan seru sorak warga.

TULUNGAGUNG – Setiap jelang sore hari, kawasan pinggiran jembatan gantung Moyoketen, Tulungagung, mendadak hidup dengan riuh suara tawa dan seru sorak warga.

Ratusan orang, dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati jalan setapak di tepian Sungai Ngrowo Tulungagung untuk menikmati momen istimewa: bermain layang-layang bersama di bawah langit senja yang cerah.

Pemandangan ini tak hanya menghadirkan nuansa nostalgia bagi generasi yang tumbuh di era sebelum gawai mendominasi, namun juga menjadi alternatif hiburan murah meriah di tengah masyarakat Tulungagung.

Puluhan hingga ratusan layangan terlihat menghiasi langit biru, menari bebas diterpa angin.

Beberapa anak terlihat mengejar layangan putus, berlarian melewati semak dan pinggiran kali ngerowo, menciptakan suasana khas desa yang hangat.

“Sudah jadi kebiasaan sejak kecil, tiap musim kemarau dan angin bagus pasti ke sini bawa layangan,” ujar Suryat, salah satu pemuda asal Moyoketen yang mengaku hampir setiap sore datang ke area jembatan.

“Tempat ini ramai kalau sore. Kadang bisa ratusan orang yang kumpul,” tambahnya.

Jembatan gantung Moyoketen sendiri menjadi ikon lokal yang menghubungkan dua sisi desa.

Di sisi barat dan timur jembatan, warga berkumpul di jalur sempit pinggir rumput yang kini jadi spot favorit untuk menonton hingga adu layangan.

Tak sedikit pula remaja yang sekadar nongkrong dengan sepeda motor mereka sambil menikmati matahari terbenam yang perlahan menyapa perbukitan di kejauhan.

Kemeriahan itu makin terasa berkat momen kebersamaan. Banyak keluarga membawa anak-anak mereka, duduk beralaskan tikar, sambil menikmati bekal sederhana.

Aktivitas yang tampak sederhana ini justru menjadi ruang interaksi sosial yang jarang ditemui di tengah kesibukan zaman.

Baca Juga: Peringati Hari Peduli Sampah Nasional, PJ Bupati Tulungagung Susuri Sungai Ngrowo bersama DLH Tulungagung

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa kawasan pinggiran sungai dan jembatan Moyoketen bukan hanya jalur penghubung, namun telah bertransformasi menjadi ruang publik alami yang menyatukan berbagai generasi.

Tradisi bermain layangan di sekitar jembatan gantung Moyoketen bukan hanya soal hiburan, tapi juga menjadi warisan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Di tengah gempuran digitalisasi, aktivitas sederhana ini mampu membuktikan bahwa kebahagiaan bisa datang dari langit lewat seutas benang dan selembar kertas yang menari bebas bersama angin. (rin)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #Sungai Ngrowo #sore #Senja