Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Para Penjaga Tradisi di Sawah Tulungagung, Masih Ada yang Ngangon Bebek?

Yoga Dany Damara • Senin, 21 Juli 2025 | 12:00 WIB
Tradisi ngangon (menggembala) bebek di Tulungagung yang setia menyusuri aliran sungai dan jalan-jalan kecil di tengah sawah.
Tradisi ngangon (menggembala) bebek di Tulungagung yang setia menyusuri aliran sungai dan jalan-jalan kecil di tengah sawah.

TULUNGAGUNG - Di tengah derasnya perubahan zaman, Tulungagung masih menyimpan mozaik kehidupan yang terasa hangat dan akrab.

Bagi sebagian orang di Tulungagung, melihat kawanan bebek berjalan beriringan di pematang sawah, digiring oleh seorang penggembala dengan caping lebar dan tongkat panjang sudah gal biasa.  

Adanya penggembala bebek di Tulungagung bukan bagian dari cerita masa lalun mereka masih nyata, masih hadir, dan masih bertahan.

Tradisi ngangon (gembala) bebek menggembala bebek Di Tulungagung memang tak seramai dulu.

Namun di desa-desa yang dikelilingi bentangan sawah luas seperti di Kalidawir, Rejotangan, Pakel, dan Campurdarat, kamu masih bisa menjumpai para penggembala yang setia menyusuri aliran sungai dan jalan-jalan kecil di tengah ladang.

Biasanya pagi hari dan menjelang sore, mereka menggiring ratusan bebek untuk mencari makan: sisa gabah dari sawah yang habis dipanen, serangga air, atau keong-keong kecil yang tersembunyi di lumpur.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat seperti pekerjaan sederhana. Tapi di balik rutinitas menggiring bebek itu, tersimpan filosofi dan ketekunan yang luar biasa.

Butuh kesabaran, pemahaman terhadap perilaku bebek, dan kedekatan emosional antara penggembala dan hewan ternaknya.

Seorang penggembala tak hanya memimpin, tapi juga menjaga dan memastikan semua bebeknya kembali dengan selamat saat senja tiba.

Di era sekarang, ketika banyak peternakan bebek beralih ke sistem kandang modern dan pakan buatan, para penggembala bebek di Tulungagung memilih tetap setia pada cara lama yang lebih alami.

Mereka percaya, bebek yang dibiarkan bebas berkeliaran justru menghasilkan telur yang lebih sehat dan daging yang lebih gurih.

Bahkan, tak sedikit rumah makan yang secara khusus mencari telur bebek dari “bebek angon” karena rasanya yang khas dan teksturnya yang berbeda.

Namun mempertahankan tradisi ini bukan tanpa tantangan. Alih fungsi lahan pertanian, polusi sungai, hingga generasi muda yang lebih memilih pekerjaan kota membuat jumlah penggembala bebek kian menurun.

Banyak di antara mereka yang kini berusia lanjut, dan belum tentu memiliki penerus.

Meski begitu, selama masih ada sawah dan aliran air, selama langit sore masih menyinari pematang, para penggembala itu akan tetap berjalan.

Mereka bukan sekadar bekerja mereka menjaga warisan, menjaga keseimbangan antara manusia, hewan, dan alam.

Jadi jika kamu berkunjung ke Tulungagung dan melihat barisan bebek berjalan pelan mengikuti penggembalanya, sempatkan berhenti sejenak.

Resapi keheningan yang indah itu. Karena di sana, kamu sedang menyaksikan salah satu potret terakhir dari tradisi yang nyaris hilang, namun masih berdetak dengan tenang di jantung desa. Itu bukan sekadar cerita lama itu adalah kehidupan yang masih berjalan. (*)

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #bebek #penggembala