TULUNGAGUNG - Ada satu hal yang sering membuat panik saat mudik ke kampung terpencil di Tulungagung, yakni sinyal hilang.
Masih ada pelosok Tulungagung yang belum tersentuh koneksi lancar atau Wi-Fi rumahan.
Tapi, siapa sangka, justru di kawasan terpencil Tulungagung kita menemukan koneksi yang paling dalam bukan ke internet, tapi ke hidup itu sendiri.
Hari-hari tanpa notifikasi dan scroll TikTok akhirnya digantikan hal-hal yang lebih sederhana main kartu remi bareng sepupu, cerita masa kecil dengan bibi dan paman, atau sekadar tidur siang di tikar bambu di teras rumah.
Waktu berjalan lambat, tapi justru itu yang bikin hati terasa penuh.
Tanpa gadget yang menyita perhatian, mata kita lebih terbuka.
Kita sadar betapa rindangnya pohon mangga di halaman, betapa segarnya angin sore, dan betapa hangatnya tawa keluarga.
Anak-anak yang biasanya rewel karena bosan, malah asyik main kejar-kejaran, lompat tali, atau membantu nenek di dapur.
Dunia digital memang menghibur, tapi dunia nyata ternyata jauh lebih menyentuh.
Liburan tanpa Wi-Fi di Tulungagung bisa jadi momen detoks digital paling jujur. Bukan karena disengaja, tapi karena memang keadaannya begitu.
Dan dari situlah, kita mulai menyadari mungkin selama ini, kita terlalu sibuk terhubung ke dunia maya, sampai lupa cara terhubung ke orang-orang yang nyata.
Jadi, kalau liburan berikutnya kamu ke Tulungagung dan sinyalmu hilang, jangan buru-buru panik.
Siapa tahu, justru di sana kamu akan menemukan koneksi yang paling penting koneksi ke keluarga, ke cerita lama, dan ke dirimu sendiri. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah