TULUNGAGUNG- Tulungagung, yang dikenal sebagai kota penghasil marmer terbesar di Indonesia, ternyata juga menyimpan sejarah purba yang mengagumkan.
Di beberapa situs arkeologi di Tulungagung, para peneliti menemukan jejak kehidupan manusia purba jenis Homo sapiens, lengkap dengan berbagai peninggalan budaya yang menggambarkan kehidupan mereka ribuan tahun lalu.
Penemuan arkeologis menyebutkan bahwa manusia purba di Tulungagung merupakan bagian dari jenis Homo sapiens, yaitu manusia modern awal yang hidup sekitar 10.000–40.000 tahun yang lalu.
Berbeda dengan manusia jenis Homo erectus atau Homo floresiensis, Homo sapiens sudah memiliki struktur otak dan tubuh yang mirip dengan manusia saat ini.
Baca Juga: Warisan Arkeologis Candi Dadi Tulungagung, Jejak Sejarah di Atas Perbukitan
Beberapa lokasi penting tempat ditemukannya fosil dan artefak manusia purba di Tulungagung antara lain:
-
Gua Song Gentong – Terletak di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat. Di sini ditemukan alat-alat serpih, tulang binatang, serta sisa-sisa pembakaran yang diduga merupakan sisa dapur manusia purba.
-
Gua Song Terus dan Song Keplek – Berada di Pegunungan Kapur Selatan, berbatasan dengan wilayah Trenggalek, situs ini menjadi pusat penelitian sejak tahun 1990-an. Beberapa temuan penting berupa alat batu, gerabah, dan indikasi tempat pemakaman purba.
-
Lembah Sungai Brantas (sekitar Boyolangu dan Ngunut) – Daerah ini menjadi lokasi strategis migrasi manusia purba dari timur ke barat Pulau Jawa. Di kawasan ini ditemukan endapan purba, alat batu, dan sisa hunian di tepi sungai.
Temuan-temuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Tulungagung telah menjadi tempat tinggal manusia prasejarah yang cukup maju secara budaya dan sosial.
Peninggalan dan Budaya
Manusia purba Homo sapiens dari Tulungagung sudah mengenal:
-
Alat serpih dan kapak batu: digunakan untuk berburu dan memotong makanan
-
Gerabah kasar: digunakan untuk menyimpan air atau bahan makanan
-
Pemakaman sederhana: menunjukkan adanya kepercayaan akan kehidupan setelah mati
-
Seni prasejarah: berupa goresan pada dinding goa yang melambangkan hewan buruan dan simbol spiritual
Semua peninggalan ini memperkuat bukti bahwa Homo sapiens di Tulungagung sudah hidup dalam kelompok sosial yang cukup kompleks dan memiliki budaya yang berkembang.
Kaitan dengan Masyarakat Modern
Beberapa kebiasaan masyarakat lokal saat ini masih dianggap memiliki akar budaya dari masa lampau, seperti tradisi upacara adat yang dilakukan di sekitar gua atau sungai.
Selain itu, kerajinan batu dan kayu yang dikerjakan secara manual juga menunjukkan kesinambungan tradisi teknik sejak zaman prasejarah.
Tulungagung, Surga Sejarah yang Terlupakan
Tulungagung bukan hanya kota industri dan wisata alam, tapi juga salah satu titik penting dalam peta arkeologi Indonesia.
Jejak Homo sapiens di wilayah ini adalah bukti bahwa kehidupan manusia di Jawa Timur sudah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Dengan menggali dan menjaga situs-situs sejarah ini, generasi masa kini bisa lebih memahami asal-usulnya.(*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah