TULUNGAGUNG - Pencak silat merupakan seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia dan beberapa wilayah Asia Tenggara. Dimana pencak silat sangat populer di Tulungagung.
Kaya akan filosofi, teknik, hingga nilai budaya, pencak silat seharusnya menjadi kebanggaan dan identitas bangsa. Namun, di balik keindahan dan kedalamannya, citra silat justru kerap tercoreng, bukan karena ajarannya, tapi karena perilaku sebagian oknumnya.
Lantas, kenapa dari sekian banyak seni bela diri di dunia, silat sering kali dianggap negatif atau bahkan dimusuhi?
1. Oknum Pelaku Silat Terlibat dalam Kekerasan dan Kejahatan
Tidak dapat dipungkiri, di Tulungagung banyak kasus kekerasan, pengeroyokan, bahkan tindakan kriminal yang melibatkan individu atau kelompok yang mengaku sebagai pesilat atau anggota perguruan silat.
Kasus bentrok antar perguruan, tawuran, hingga aksi premanisme yang mengatasnamakan pencak silat. Hal ini menimbulkan persepsi buruk bagi masyarakat Tulungagung bahwa silat identik dengan kekerasan.
2. Lupa dengan Nilai Luhur Silat
Filosofi pencak silat sejatinya mengajarkan keutamaan, menghormati lawan, mengendalikan diri, serta menjunjung tinggi kehormatan dan perdamaian. Namun, nilai-nilai luhur ini sering terabaikan karena sebagian oknum hanya fokus pada kekuatan fisik dan kemampuan bertarung. Akibatnya, silat kehilangan esensinya di mata masyarakat Tulungagung.
3. Konflik Antar Perguruan Silat
Fenomena rivalitas antarperguruan di Tulungagung menjadi salah satu pemicu utama rusaknya citra silat. Bukannya menjadi tempat belajar dan mengembangkan diri, sebagian perguruan justru menjadi sumber konflik horizontal di masyarakat. Perselisihan karena ego, prestise, hingga wilayah kerap berujung pada kekerasan yang meresahkan.
4. Sorotan Media dan Dampak Viral
Ketika satu kasus kekerasan melibatkan pencak pesilat, berita tersebut sering cepat viral dan disebarkan luas tanpa verifikasi. Citra buruk ini semakin tertanam dalam pikiran masyarakat Tulungagung, seolah-olah semua pesilat bersikap agresif. Padahal, yang bersalah adalah individu, bukan keseluruhan sistem atau ajaran silat.
5. Kurangnya Pengawasan dan Edukasi dari Perguruan
Beberapa perguruan silat lebih menekankan latihan fisik dan kompetisi, namun mengesampingkan aspek mental dan moral. Akibatnya, siswa yang memiliki kemampuan bela diri tinggi tapi minim karakter bisa berubah menjadi ancaman bagi lingkungannya. Harus ada peran aktif dari guru dan pelatih dalam membentuk karakter luhur pesilat.
6. Minimnya Regulasi dan Pembinaan dari Pemerintah
Silat seharusnya menjadi bagian dari sistem bela negara dan pendidikan karakter. Sayangnya, pembinaan terhadap perguruan-perguruan silat belum maksimal. Tanpa pengawasan dan arah yang jelas, perguruan bisa berkembang liar dan menjadi tempat perekrutan untuk tindakan kekerasan.
Baca Juga: Prabowo Prabowo: Juli Ini Sudah 6 Juta Penerima Manfaat MBG
Silat tidak boleh dikorbankan karena perilaku buruk oknum. Solusinya adalah penguatan edukasi moral dalam setiap latihan silat, penegakan hukum tegas bagi pelaku kekerasan tanpa tebang pilih, pembinaan dan sertifikasi resmi perguruan silat, Kampanye positif melalui media sosial dan publikasi budaya dan integrasi silat dalam pendidikan karakter di sekolah.
Pencak silat adalah warisan budaya yang berharga dan penuh makna. Namun, jika dibiarkan dicoreng oleh perilaku menyimpang sebagian orang, maka identitas dan nilai luhur bangsa bisa tergerus. Tugas kita sebagai masyarakat, termasuk para pesilat sejati adalah menjaga, membina, dan memulihkan citra silat agar kembali menjadi simbol kehormatan, bukan ketakutan.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz