TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, ada satu tren mode yang tak pernah lekang oleh waktu sandal jepit. Bukan sekadar alas kaki, tapi simbol gaya hidup santai, fleksibel, dan percaya atau tidak percaya diri tingkat dewa.
Coba saja perhatikan pagi-pagi di pasar tradisional Tulungagung. Ibu-ibu dengan daster bermotif bunga, bapak-bapak dengan kaus oblong, dan di bawahnya sandal jepit yang siap menantang segala medan.
Jalan becek? Gas. Aspal panas? Santai. Bahkan kalau mendadak diajak ke kondangan pun, asal pakai baju batik, sandal jepit masih sah-sah saja di Tulungagung.
Uniknya, sandal jepit juga sering muncul di tempat-tempat “resmi”. Kantor desa, balai RW, bahkan rapat warga semuanya pernah disambangi oleh si sandal karet sejuta umat ini.
Tak ada rasa canggung, justru terlihat natural dan merakyat. Karena di sini, penampilan bukan soal mahal atau mewah, tapi soal nyaman dan siap gerak.
Sandal jepit juga jadi simbol kesetaraan. Mau petani, guru ngaji, tukang bakso, atau anak muda nongkrong, semua bisa berada di level yang sama saat kaki menyentuh alas karet ini. Nggak ada kasta. Nggak ada gengsi.
Kalau di kota besar sandal jepit dianggap “terlalu santai”, di Tulungagung justru dianggap versatile bisa ke sawah, bisa ke warung, bisa juga ke resepsi pernikahan asal tidak hujan deras.
Bahkan ada yang bilang, “Kalau belum ada bunyi plak-plok plak-plok di jalan gang, belum terasa suasana kampung.”
Simpel, ringan, murah, dan jujur. Begitulah hidup dan gaya warga Tulungagung. Dalam hal fashion, mereka mungkin tak berlomba jadi yang paling gaya.
Tapi soal jadi paling rileks dan tetap percaya diri? Mereka juaranya. Sandal jepit adalah mahkota informal yang membuat siapa pun merasa “Aku siap ke mana saja.” (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah