TULUNGAGUNG – Gelaran car free day (CFD) dan aktivitas jual beli yang biasa disebut sebagai Sunday morning kembali dievaluasi. Para pedagang meminta Pemkab Tulungagung menggalakkan program-program untuk menjaga perputaran rupiah yang ditaksir mencapai ratusan juta dalam sekali gelaran CFD.
Ketua Forum Komunikasi UMKM Tulungagung, Abdul Aziz mengungkapkan, perputaran uang dalam tiga jam gelaran CFD di setiap pekan terbilang besar. Yakni mencapai angka ratusan juta.
“Untuk yang secara detail laporannya kan saya belum melihat. Intinya kalau beberapa bulan atau beberapa minggu, yang pernah itu ya antara Rp 240-300 juta itu pernah. Cuma akhir-akhir ini CFD Tulungagung karena daya beli menurun, kami belum ngecek,” tandasnya, Selasa (23/7/2025).
Masing-masing pedagang yang tergabung dalam paguyuban UMKM CFD Tulungagung diminta mengisi form daftar hadir hingga omzet harian usai gelaran CFD.
Tapi, harus diakui bahwa tidak semua pedagang tertib dalam pelaporan administrasi ke dinas. Padahal, hal ini dibutuhkan pemkab untuk memetakan potensi dan penentuan kebijakan selanjutnya. “Kalau secara data itu sekitar 600-an (orang pedagang di CFD),” sebut Aziz.
Meski omzet kolektif para pedagang terbilang besar, Aziz mengungkapkan bahwa jumlah pembelian bisa turun begitu daya beli masyarakat menurun.
Itu sebabnya, dia mendorong pemkab banyak menginisiasi gelaran event di area CFD. Sebab, hal ini disebut berdampak pada peningkatan omzet para pelaku UMKM di CFD.
“Isian hiburan juga penting. Karena orang ke sana itu berolahraga, mencari hiburan, setelah itu jajan kuliner. Jadi paling tidak event-event itu terus ada lah,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop UM) Kabupaten Tulungagung, Slamet Sunarto menerangkan, kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu daerah memang signifikan.
“Dengan adanya CFD yang Sunday morning itu sebagai contoh bisa ter-manage bagus. Artinya, legal formal-nya sudah ada. Terus komitmennya terhadap kebersihan, ketertiban, dan sebagainya terjaga. Artinya, organisasi itu bisa menghasilkan ekonomi,” sebutnya.
Disinggung soal adanya CFD di beberapa kecamatan lain, Slamet mengungkapkan bahwa dinas menyambut baik inisiasi ini.
Tapi, harus dipastikan para pelaku UMKM yang ada di CFD kecamatan bisa bersikap kolaboratif dengan berbagai ketentuan dan norma yang berlaku.
Untuk diketahui, beberapa pekan lalu masyarakat menyambut gelaran CFD di Kecamatan Ngunut. Lalu, disusul dengan rencana gelaran yang sama di Kecamatan Bandung.
“Yang saya yakini dengan kontribusi UMKM begitu besar terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Dengan adanya tumbuh kembang CFD per kecamatan itu, asumsi kami positif. Cuma semua harus ditata manajemennya secara rapi,” tegasnya.
Dia menambahkan, dinas belum menerima laporan soal penyelenggaraan CFD di Kecamatan Ngunut. Itu sebabnya, dia mendorong para pelaku UMKM bisa segera membentuk paguyuban agar seluruh aspek persyaratan administratif bisa terpenuhi.
“Kami berharap nanti kalau mungkin ada CFD yang ada di wilayah kecamatan, mohon kiranya nanti dari dinas koperasi dan usaha mikro itu bisa (diberi) informasi. Sehingga perkembangannya nanti kita tahu,” lanjut Slamet.
Pembentukan paguyuban pedagang jadi poin penting yang dinas minta untuk disegerakan. Pasalnya, hal ini juga berkaitan dengan upaya pemkab dalam memonitor aktivitas ekonomi daerah.
“(Seperti CFD di wilayah kota) dia sudah mampu sekarang ini membayar tenaga kebersihan. Cuma nanti kita orientasikan pada periode berikutnya, harus mampu untuk berkontribusi terhadap PAD,” tandasnya. (dit/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah