TULUNGAGUNG - Pukul tiga sore di Tulungagung tidak hanya dianggap sebagai jam transisi antara sibuk dan santai, antara panas terik dan senja yang mulai turun.
Di Tulungagung, jam tiga sore punya makna sendiri tentang waktunya berhenti sejenak, duduk santai, dan menyesap kehidupan dengan teh hangat dan gorengan.
Di depan rumah atau di warung kecil pinggir jalan, suasana mulai hidup di Tulungagung. Anak-anak pulang sekolah, bapak-bapak turun dari sawah, ibu-ibu menggulung daster dan menyambut tetangga yang mampir.
Di tengah semua itu, tempe goreng panas baru saja diangkat dari wajan. Sering kali ada juga tahu isi, bakwan, atau pisang goreng yang disuguhkan dengan sederhana tapi terasa istimewa.
Teh manis diseduh dalam gelas kaca bening, uapnya mengepul, aromanya menyatu dengan angin sore yang mulai sejuk. Di momen ini, obrolan mengalir ringan.
Mulai dari kabar anak yang kerja di luar kota, panen padi tahun ini, sampai gosip ringan tentang tetangga yang baru pasang Wi-Fi.
Tidak penting isi bicaranya, yang penting adalah kebersamaannya.
Tradisi nongkrong sore ini bukan cuma soal camilan atau minuman. Namun, budaya waktu luang tentang memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat. Tentang menikmati hidup tanpa tergesa, tanpa notifikasi, tanpa deadline.
Di kota, momen seperti ini mungkin sudah langka, tapi di kampung-kampung Tulungagung, budaya ini masih bertahan. Dan justru dari kesederhanaan itulah kita belajar bahwa bahagia bisa sesederhana tempe goreng hangat dan tawa yang tak dibuat-buat.(*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah