TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, ada satu benda sederhana yang diam-diam jadi pusat banyak peristiwa penting tikar.
Entah itu tikar bambu yang sudah mulai aus, tikar plastik bermotif bunga, atau tikar kain hadiah dari arisan semuanya punya peran sosial yang tidak main-main.
Tikar bukan sekadar alas duduk, tapi panggung kehidupan warga. Di atas tikar, orang-orang berkumpul untuk tahlilan selepas maghrib, dengan suguhan teh hangat dan kacang rebus.
Beberapa jam kemudian, tikar yang sama bisa berubah fungsi jadi lapak dadakan untuk jualan jajanan pasar atau sarapan nasi pecel di pinggir jalan.
Dan saat malam datang, terutama musim Piala Dunia atau Euro, tikar digelar lagi untuk begadang nonton bola rame-rame, ditemani kopi sachet dan obrolan ngalor-ngidul.
Uniknya, satu tikar bisa jadi saksi banyak hal dalam sehari: dari suasana haru doa bersama, riuhnya transaksi pagi, hingga sorak-sorai gol di tengah malam.
Bahkan, banyak warga desa yang bilang, "Selama masih ada tikar, kumpul pasti jalan." Tikar juga jadi simbol kesetaraan semua duduk sejajar, tanpa kursi, tanpa kasta.
Dalam budaya kampung seperti Tulungagung, tikar adalah semacam ‘ruang tamu portabel’ yang bisa digelar di mana saja teras rumah, halaman musholla, bahkan di pinggir sawah.
Sederhana, tapi fungsional. Dan di situlah letak pesonanya. hangat, fleksibel, dan sangat Indonesia.
Kalau kamu tumbuh di kampung atau pernah tinggal di sana, pasti punya satu kenangan manis di atas tikar.
Entah itu main kartu remi, ngupas bawang bareng ibu-ibu, atau sekadar tiduran siang diterpa angin.
Tikar mungkin murah, tapi nilainya di kehidupan sosial Tulungagung? Tak ternilai.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz