TULUNGAGUNG - Abdul Hakam Sholahuddin, mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, resmi menyandang gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji. Judul yang diangkat “Integritas Pemilihan Umum Berbasis Jurnalisme Profetik”.
Abdul Hakam Sholahuddin menyoroti krisis substansi dalam demokrasi Indonesia yang selama ini dinilai masih sebatas prosedural.
"Ini memang menjadi fenomena dalam penyelenggaraan pemerintahan kita. Orang selalu menyalahkan demokrasi, padahal yang terjadi sebenarnya adalah minimnya substansi demokrasi. Hanya sebatas prosedur," ujar Hakam seusai ujian terbuka.
Dalam disertasinya, Hakam mengusulkan pendekatan baru dalam menjaga integritas pemilu. Yaitu dengan menggunakan pendekatan jurnalisme profetik.
Sebuah konsep yang membedakan dirinya dari jurnalisme konvensional, karena lebih menekankan nilai-nilai moral, etika, dan tanggung jawab publik yang berbasis sifat-sifat kenabian. Sifat kenabian tersebut adalah jujur, amanah, transparan, dan bijaksana.
"Jangan sampai pemilu hanya jadi rutinitas lima tahunan. Tapi dampaknya tidak optimal bagi kemajuan bangsa," tegasnya.
Menurut dia, jurnalisme profetik dapat menjadi celah harapan dalam membangun demokrasi yang substansial.
Salah satu caranya adalah dengan menekankan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari penyelenggara, partai politik, hingga masyarakat luas sebagai pemilih.
Namun, dia menyayangkan rendahnya partisipasi publik dalam proses politik saat ini. "Keterlibatan masyarakat masih minim. Mereka seolah tidak punya ruang untuk berpartisipasi. Caleg pun seringkali hanya yang punya uang, bukan yang punya kapabilitas," ujarnya prihatin.
Dalam forum ujian terbuka yang dipimpin oleh Prof Dr H. Abd. Aziz MPdI, bersama enam penguji lain dari berbagai disiplin ilmu, Hakam juga menyoroti pentingnya reformasi sistem hukum dan regulasi pemilu, serta budaya politik yang harus digeser dari pragmatisme menuju idealisme.
Dia berharap partai politik ke depan bisa lebih selektif dan berbasis tanggung jawab moral. “Bukan soal independen atau tidak, tapi bagaimana partai memilih kader yang benar-benar punya visi membangun bangsa. Yang jujur, bijak, dan bertanggung jawab. Bukan hanya yang punya uang,” jelasnya.
Proses penyusunan disertasi ini ditempuh Hakam selama masa studi doktoralnya yang berlangsung selama empat tahun. Bahkan sejak awal perkuliahan, dia sudah memiliki rancangan awal gagasan disertasinya itu.
Dia menitipkan harapan agar masyarakat tidak pesimistis terhadap dunia politik. “Kita harus punya optimisme. Politik itu baik. Politik itu bisa menjadi jalan jihad dan ibadah sosial. Bukan semata-mata rebutan kekuasaan saja,” pungkasnya.
Dengan raihan gelar doktor ini, Abdul Hakam Sholahuddin menambah deretan akademisi yang berupaya mendorong perbaikan kualitas demokrasi Indonesia melalui pendekatan berbasis nilai-nilai jurnalisme profetik. (*/c1/din)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz