TULUNGAGUNG - Di kota-kota besar, pagi dimulai dengan suara alarm ponsel atau deru kendaraan yang padat. Tapi di Tulungagung, pagi punya iramanya sendiri lebih manusiawi, lebih membumi, dan tak jarang bikin senyum tersungging. Itulah suara tukang sayur keliling.
Bukan sekadar teriakan menawarkan dagangan, melainkan semacam "soundtrack pagi" yang telah menjadi bagian dari identitas kampung di Tulungagung.
Teriakan mereka bukan main-main. Ada yang khas serak-serak basah, ada yang seperti menyanyi, dan ada pula yang terdengar seperti mantra ajaib yang hanya bisa dimengerti oleh ibu-ibu rumah tangga di Tulungagung.
“Sayuuur... sayuuurrrr!” atau kadang diselingi nama sayuran seperti “Bayem... kangkung... wortel...!” yang terdengar bergetar dari ujung gang. Setiap tukang sayur punya gaya vokal masing-masing, seolah mereka semua punya sekolah musik tersendiri.
Suara mereka ibarat notifikasi alami pengingat tanpa teknologi bahwa hari sudah dimulai, dan waktu belanja pagi telah tiba.
Menariknya, suara itu juga menandai ritme kehidupan semakin pagi terdengar, semakin semangat suasana kampung.
Anak-anak mulai bersiap sekolah, ibu-ibu menyapu halaman, dan obrolan ringan antar tetangga pun dimulai dari momen saling sapa saat belanja di depan rumah.
Lebih dari sekadar jualan, teriakan tukang sayur adalah bagian dari interaksi sosial. Mereka seringkali hafal pelanggan tetap, tahu selera tiap rumah, bahkan bisa jadi teman curhat ringan soal harga cabai atau drama sinetron semalam.
Suara mereka menyelipkan kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh notifikasi smartphone.
Kini, ketika semuanya makin digital dan sunyi oleh kesibukan pribadi, suara tukang sayur yang dulu dianggap biasa saja justru jadi sesuatu yang dirindukan.
Ia menjadi simbol keterhubungan antar manusia, kehidupan yang lebih pelan, dan pagi yang tidak hanya sibuk tapi juga hidup.
Di Tulungagung, teriakan tukang sayur adalah lagu rakyat yang diputar ulang setiap pagi.
Tidak ada rekaman, tidak ada panggung, tapi selalu punya penonton setia. Sebuah nostalgia hidup yang terus bersuara. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah