Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suara Emper Ritual Subuh di Tulungagung

Yoga Dany Damara • Sabtu, 26 Juli 2025 | 11:00 WIB

Di Tulungagung, membuka pintu rumah sejak subuh itu bukan hanya membuka akses keluar-masuk. Itu adalah bentuk keramahan. Simbol keterbukaan.
Di Tulungagung, membuka pintu rumah sejak subuh itu bukan hanya membuka akses keluar-masuk. Itu adalah bentuk keramahan. Simbol keterbukaan.

TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, subuh bukan hanya waktu salat dan secangkir kopi pertama. 

Di Tulungagung subuh adalah ritual kecil yang dimulai dengan satu gerakan sederhana membuka pintu rumah.

Bagi orang kampung di Tulungagung, membuka pintu sejak fajar menyingsing bukan soal sirkulasi udara atau kebiasaan lama.

Itu semacam isyarat tak tertulis bahwa rumah ini hidup, penghuninya bangun, dan siap menyambut hari. Kadang terdengar suara "grekkk" daun pintu kayu digeser, lalu disusul suara kursi plastik yang diseret ke emper, suara sapu lidi menyentuh tanah, atau suara batuk kecil sebelum menyeruput kopi panas.

Baca Juga: Mainan Jadul di Tulungagung yang Masih Dibuat Manual dari Gasing Kayu sampai Balon Tiup Odol

Emper rumah, yang bagi orang kota mungkin hanya ruang sisa tanpa fungsi, di kampung justru jadi pusat aktivitas pagi.

Di situlah bapak-bapak duduk melipat kaki, ngopi sambil membaca kalender dinding.

Ibu-ibu mulai menyapu halaman, atau menyiram tanaman sambil menyapa tetangga yang lewat menuju pasar.

Anak-anak yang kesiangan kadang masih disuruh beli kopi sachet atau roti tawar ke warung depan gang.

Baca Juga: Warangka Keris dari Kayu Asal Timor Leste Ini Paling Digemari Kolektor, Ternyata Menyimpan Hal Mengejutkan

Yang menarik, tidak ada ajakan resmi untuk ngobrol. Kadang hanya karena pintu tetangga sudah terbuka, dan terdengar suara sendal seret ke emper, obrolan pun mengalir.

Tentang hujan semalam, harga beras, sampai gosip Pak RT yang mau ganti paving. Semuanya dibicarakan ringan, tanpa rencana, tapi justru di situlah letak kehangatannya.

Di Tulungagung, membuka pintu rumah sejak subuh itu bukan hanya membuka akses keluar-masuk.

Itu adalah bentuk keramahan. Simbol keterbukaan. Bahkan, bisa jadi cara paling sederhana untuk mengatakan: "Aku ada, kamu boleh datang ngobrol kalau mau."

Ritual kecil ini mungkin tidak tercatat di kalender atau agenda resmi.

Tapi bagi banyak warga Tulungagung, suara emper di pagi hari adalah tanda bahwa hidup di kampung masih hangat, pelan, dan penuh sapaan. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #pintu #rumah