TULUNGAGUNG – Di tengah arus modernisasi transportasi yang kian deras, dua tukang becak senior di Tulungagung, Mujito, 57, dan Seno, 73, terus berjuang melawan kerasnya hidup dengan penghasilan yang jauh dari kata pasti. Kondisi miris mereka menjadi cerminan nyata dampak perubahan zaman terhadap profesi tradisional yang kian tergerus.
Mujito, yang berdomisili di Desa Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, adalah seorang saksi hidup perubahan.
Pria yang sudah sepuh ini telah 57 tahun hidupnya sebagai pengayuh becak di Tulungagung, jadi sebuah rekam jejak pengabdian yang luar biasa.
Mujito adalah tulang punggung bagi empat anaknya, dan becaknya sendiri, yang dibelinya serta rawat murni dari hasil tabungannya.
Setiap hari, Mujito setia mangkal di Stasiun Tulungagung, memulai tugasnya sejak pukul 11.00 WIB hingga kembali ke rumah esok paginya.
Namun, pendapatan yang kantongi Mujito tidak menentu. Dalam satu hari satu malam, terkadang hanya membawa pulang Rp 15.000 hingga Rp 30.000, bahkan tak jarang pulang tanpa uang sepeser pun.
Uang ini, sekecil apa pun, menjadi satu-satunya tumpuan bagi kehidupan keluarganya. Mujito mengenang masa-masa kejayaan di mana dia bisa mengantongi minimal Rp 50.000 per hari pada tahun 1990 an.
Kini pada tahun 2025, dengan menjamurnya aplikasi transportasi online dan meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi, becaknya kian sepi.
Tak jauh berbeda dengan Mujito, Seno juga merasakan pahitnya perjuangan. Dia telah melakoni pekerjaan tukang becak sejak tahun 1980, juga dengan becak miliknya sendiri.
Hasil pendapatannya sangat tidak menentu, seringkali hanya sekitar Rp 25.000, yang bahkan belum dipotong untuk biaya makan. Dari penghasilan pas-pasan itu, dia harus menghidupi dua anak dan dua cucunya.
Seno juga mencari nafkah dengan mangkal di Stasiun Tulungagung. Belakangan, ia merasakan betul sepinya penumpang.
Bahkan saat Lebaran pun, hasilnya hanya sedikit. "Kalau tidak dapat uang ya tidak makan," tutur Seno, Kamis (23/7/2025).
Untuk sekali perjalanan dari Stasiun Tulungagung ke Terminal Gayatri, dia mendapat Rp 10.000. Meskipun kakinya sudah sering linu dan mengayuh tanpa alas kaki, dia tetap bertahan karena hanya profesi tukang becak yang ia kuasai.
Kisah Mujito dan Pak Seno adalah gambaran nyata dari tantangan yang dihadapi oleh profesi tradisional di era modern. Mereka adalah potret ketahanan dan perjuangan para tukang becak di Tulungagung yang terus bertahan demi kelangsungan hidup. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah