TULUNGAGUNG– Raihan dua medali perunggu di Porprov IX Jatim tahun ini membuat jajaran Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Tulungagung melakukan evaluasi.
Ketua Pelti Tulungagung, Hari Prastijo mengungkapkan, sebetulnya pembinaan atlet di berbagai usia sudah digelar oleh internal induk cabor. “Karena pembinaan kita berjalan secara simultan. Pembinaan mulai KU-8, 10, 12, 14, sampai sekarang 18 (tahun). Lapisan itu kita sudah punya,” tandasnya, Jumat (25/7/2025).
Di multievent terakbar tingkat provinsi tahun ini, Pelti Tulungagung hanya meraih dua medali perunggu. Menurut laki-laki yang karib disapa Yoyok ini, ada berbagai hal yang melatari minimnya raihan atletnya di Porprov IX Jatim 2025.
“Seharusnya kita mampu emas. Karena regulasinya kita yang dirugikan. Yang (Porprov 2023) kemarin KU-21 maksimal. (Tahun ini) harusnya sama. Tapi di tahun ini KU-23. Sehingga juara yang tahun kemarin bisa ikut di tahun ini,” tegasnya.
Soal lain, regulasi perpindahan atlet juga jadi kendala. Menurut Yoyok, sejumlah tim melanggar ketentuan perpindahan atlet tenis dari satu daerah ke daerah lain.
Kondisi ini menyebabkan adanya daerah yang diuntungkan karena memiliki atlet jempolan tanpa melakukan pembinaan minimal satu tahun pada atlet yang dimaksud.
“Di tenis, regulasinya, pemain awalnya boleh pindah, ikut kabupaten lain (selama) satu tahun. Tapi ternyata kemarin tidak. Tiga bulan, empat bulan, sudah masuk di tim kabupaten lain,” keluhnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Camat Tulungagung ini mengaku menyayangkan berbagai kondisi atau kebijakan yang membuat satu daerah lebih unggul dari daerah lain dalam hal kompetisi tenis.
Dari sisi internal, Yoyok juga merasa perlu menambah sarana latihan para atlet, mengingat minimnya jumlah lapangan tenis yang sesuai standar di Tulungagung.
“Di Tulungagung, sarpras memang perlu penambahan. Saya mengusulkan di Lapangan Rejoagung itu ditambah dua ban atau dua line,” sebutnya.
Untuk saat ini, baru ada sekitar enam lapangan tenis yang bisa digunakan sebagai sarana latihan para atlet. Tapi, proses latihan juga berpotensi jadi tak maksimal. Alasannya, para atlet juga harus berbagi lapangan dengan masyarakat umum.
“Kalau di Tulungagung representatif ada enam lapangan. Dari pendapa ini dua lapagan, di Rejoagung dua lapangan, di DKP satu lapangan, di BNI satu lapangan,” tandasnya. (dit/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah