TULUNGAGUNG - Di pasar tradisional Tulungagung, aktivitas jual beli sering kali diselingi hal-hal tak terduga bukan hanya soal harga, tapi soal gaya bicara dan guyonan yang melegenda.
Pasar tradisonal Tulungagung seolah punya kosakata sendiri antara logat khas, tebak-tebakan absurd, dan celetukan yang bikin pembeli tersenyum, meski belum tentu dapat harga murah.
Tawar-menawar di pasar memang sudah jadi budaya. Tapi yang membedakan pasar Tulungagung adalah caranya yang penuh warna. Saat seseorang mencoba menawar harga sayur, bisa saja disambut dengan kalimat seperti:
“Kalau saya kasih segitu, saya makan apa, Mbak?”
Atau:
“Lha, ini udah harga temen. Temen yang nggak banyak nanya!”
Kalimat-kalimat seperti itu tidak ditujukan untuk menolak secara kasar, justru jadi bentuk candaan yang sudah dianggap wajar.
Ada semacam ‘kode etik tak tertulis’ bahwa tawar-menawar di pasar tradisional selalu punya unsur humor, kadang bahkan berubah jadi tebak-tebakan spontan.
Misalnya:
“Bu, ini dasternya berapa?”“Coba tebak. Kalau tebakanmu bener, kamu jodoh anak saya.”
Atau:
“Kamu nawar segitu, kamu kira ini pasar khayalan?”
Pasar di Tulungagung bukan hanya tempat jual beli kebutuhan harian. Ia juga menjadi ruang sosial di mana percakapan ringan bisa berkembang jadi obrolan panjang. Di antara tumpukan cabai, bawang, dan kain batik, terbangun relasi unik antara penjual dan pembeli.
Candaan, sindiran halus, hingga pujian berbalut sarkas sudah jadi bagian dari suasana pasar yang ramai tapi akrab.
Guyonan khas pasar ini juga menjadi penghibur tersendiri, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa belanja sambil ngobrol. Di tengah naik-turunnya harga, candaan semacam ini justru bikin suasana tetap hangat dan menyenangkan.
Yang membuat gaya komunikasi ini menarik adalah karena sifatnya yang sangat universal hampir semua orang pernah mengalaminya.
Entah itu ditawar sampai 'nangis', ditolak halus dengan candaan, atau malah dikasih diskon gara-gara "mukanya mirip anak saya".
Fenomena ini juga sangat mudah dijadikan konten. Dialog-dialog absurd khas pasar bisa dikemas jadi video pendek, meme, bahkan komik strip. Bukan tidak mungkin, celetukan emak-emak pasar ini bisa jadi tren baru di media sosial karena saking relatable-nya.
Di balik teriknya matahari dan riuhnya suara penjual memanggil pembeli, pasar Tulungagung menyimpan kekayaan komunikasi yang khas antara guyonan receh dan canda yang menyelip di sela transaksi.
Ini bukan soal murah atau mahal, tapi soal rasa rasa akrab, hangat, dan kadang bikin ketawa sendiri saat sudah di rumah. Karena di pasar, harga bisa ditawar tapi senyuman dan tawa, gratis selamanya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah