Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perjuangan Supriyono Warga Tulungagung Usaha Tiwul Instan hingga Laku di Pasar Internasional, Butuh Dua Tahun Eksperimen Rasa hingga Bentuk  

Aditya Yuda Setya Putra • Senin, 28 Juli 2025 | 17:00 WIB
Warga Tulungagung, Supriyono, dengan kepiawaiannya, sajian tiwul jadi salah satu komoditas ekspor yang menembus pasar Asia Tenggara hingga Eropa.
Warga Tulungagung, Supriyono, dengan kepiawaiannya, sajian tiwul jadi salah satu komoditas ekspor yang menembus pasar Asia Tenggara hingga Eropa.

TULUNGAGUNG- Dengan kepiawaiannya, sajian tiwul jadi salah satu komoditas ekspor Tulungagung yang menembus pasar Asia Tenggara hingga Eropa.

Supriyono, pria asal Desa Jenglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung ini perlu melakukan riset dan eksperimen bertahun-tahun sebelum menemukan resep yang pas.

Ide memulai usaha tiwul instan tidak muncul ujug-ujug. Mulanya, Supriyono membuka usaha keripik pisang. Seiring berjalannya waktu, dia mendapati sejumlah permintaan olahan tiwul dari para pelanggan di Tulungagung.

Dari sana tercetus ide untuk mulai menjajakan produk baru. Yakni, olahan nasi tiwul. Tapi, dia di awal tidak memiliki pengetahuan soal pembuatan tiwul. “Nah dari situ saya ngambil punya teman. Setelah saya pasarkan punya teman itu banyak komplain dan banyak masukan dari para konsumen saya. Mintanya yang seperti ini, seperti ini,” katanya, Jumat (25/7/2025).

Karena penasaran, Supriyono memberanikan diri untuk mulai membuat sendiri olahan nasi tiwul. Secara berkala, dia mencoba satu per satu resep olahan tiwul. Kegiatan tersebut dimulai pada 2016 lalu.

“Itu saya mencoba eksperimen setahun lebih. Eksperimen saya untuk mendapatkan suatu produk yang memang standar dengan permintaan konsumen. Mungkin sekitar dua tahun baru menemukan resepnya,” lanjutnya.

Dia mengungkapkan bahwa resep barunya sudah siap dipasarkan pada 2018. Dalam kurun waktu dua tahun, dirinya banyak belajar soal seluk-beluk pembuatan tiwul instan yang sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia.

“Kalau selama itu kan produksi saya tetap dipasarkan. Cuma ada perubahan-perubahan dari konsumen, banyak komplain. Termasuk rasa hingga bentuk. Nah dari situ saya tetap terus mencoba memperbarui,” paparnya.

Sesuai yang diharapkan, produknya digemari pasar. Selain memasarkan di Tulungagung, Supriyono juga merambah pasar luar daerah. Mulai dari Blitar, Kediri, hingga Surabaya.

Selang beberapa waktu, dia berkesempatan untuk memasarkan produknya hingga ke luar negeri. Kesempatan tak disia-siakannya.

Supriyono memastikan produknya layak untuk dikirim dan dikonsumsi di luar negeri. Berbagai persyaratan administratif, teknis, dan nonteknis dia penuhi, hingga akhirnya dia mampu mengekspor produknya ke berbagai negara.

“Mulai tahun 2018 ke luar negeri. Sebelum Covid-19 itu ke Portugal, Qatar, dan Malaysia. Tapi untuk sekarang tinggal Malaysia saja,” jelasnya.

Meski permintaan dari pasar luar negeri saat ini terbilang lebih sedikit dibanding masa sebelum pandemi Covid-19, jumlah produksi harian tiwul milik Supriyono tetap terbilang besar.

“Kalau untuk saat ini per bulan untuk ke Malaysia rata-rata 300 sampai 500 kilogram. Kalau dalam sehari kita bisa bikin 50 sampai 70 kilogram. Pasti habis. Bahkan kita kekurangan stok kadang,” sebutnya.

Meski begitu, jenis usaha ini bukannya tanpa kendala. Ketersediaan singkong yang jadi bahan baku utama tiwul tidak bisa dibilang pasti.

Ada musim-musim tertentu di mana produksi singkong dari petani terbilang melimpah dan ada pula masa produksi jenis umbi-umbian ini seret.

“Bahan bakunya kan musiman. Ketika permintaan meledak, otomatis kita juga kewalahan kalau kita tidak nyetok banyak,” tandasnya.

Nyetok banyak pun kadang juga kewalahan. Soalnya untuk bahan baku itu musiman, dan untuk panen raya itu kadang kan tergantung cuaca. Kalau saat ini cuacanya lagi musim kemarau basah,” pungkasnya. (*/c1/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #tiwul instan #Ekspor #pasar internasional