TULUNGAGUNG - Di tengah upaya penanggulangan HIV/AIDS di Tulungagung, masih banyak Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang harus bergulat bukan hanya dengan kondisi kesehatannya, tapi juga stigma dan diskriminasi sosial yang mengiringinya.
“Kampanye ‘Tulungagung Tanpa Stigma’ menjadi bagian penting dari strategi penanggulangan HIV/AIDS di Tulungagung," terang psikolog sekaligus Sekretaris I KPA Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah, M.Psi.
Kampanye tersebut menekankan bahwa ODHA di Tulungagung adalah manusia yang tetap bisa hidup sehat, produktif, dan berkontribusi. Asalkan diberi kesempatan.
"ODHA bukan untuk dikasihani, mereka butuh dukungan, bukan dijauhi. Karena ketika masyarakat menjauh, mereka justru semakin tertutup dan enggan mengakses pengobatan,” jelas Ifada.
Saat ini, lebih dari 30 puskesmas dan 19 rumah sakit di Tulungagung telah membuka layanan pengobatan dan konseling HIV/AIDS. Namun, tidak sedikit ODHA yang memilih diam dan menyembunyikan statusnya karena khawatir mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat.
Dalam upaya mendukung ODHA secara holistik, KPA juga menggagas kegiatan spiritual seperti Majlis Taklim Sinau Agomo, yang menjadi ruang penguatan mental dan iman bagi para ODHA.
Kegiatan tersebut telah berlangsung konsisten setiap Selasa selama empat tahun terakhir, dengan partisipasi dari Kementerian Agama (Kemenag).
“Bagi kami yang hidup dengan HIV, penguatan spiritual sangat membantu kami berdamai dengan keadaan. Kami tidak ingin mengganggu siapa-siapa, hanya ingin hidup normal,” kata Ifada menirukan seorang ODHA yang aktif mengikuti program tersebut.
Selain itu, keterlibatan ODHA dalam program-program KPA lebih tepatnya sebagai penyintas dan narasumber, juga menjadi strategi untuk memutus stigma dan meningkatkan pemahaman masyarakat secara langsung.
"ODHA bisa jadi agen perubahan, karena siapa lagi yang lebih paham soal perjuangan ini selain kami sendiri," jelasnya.
Dengan pendekatan inklusif dan partisipatif, KPA berharap masyarakat Tulungagung bisa mengubah cara pandang mereka terhadap HIV/AIDS.
Karena di balik angka dan data, ada manusia yang sedang berjuang dengan martabat dan hak hidup sama seperti yang lain. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah