TULUNGAGUNG - Fenomena sound horeg yang marak terjadi di berbagai wilayah Tulungagung dinilai berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dr Aris Setiawan, M.Kes menegaskan, intensitas suara berlebih, terutama yang muncul dari aktivitas sound horeg, berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Dia menyebut bukan hanya fenomena horeg saja di Tulungagung, tapi lebih pada kegiatan apapun yang menggunakan pengeras suara melebihi ambang batas kemampuan tubuh manusia.
Batas ambang suara yang aman bagi orang dewasa maksimal pada 80 desibel (dB), sedangkan untuk anak-anak berada di angka kisaran 70 dB.
“Kalau kita bicara soal kesehatan, maka kita yang soroti adalah intensitas suara yang melebihi ambang batas normal yang bisa diterima tubuh manusia,” jelas dr Aris, Senin (28/7/2025).
Menurut dia, sound horeg kerap memancarkan suara dengan intensitas tinggi secara dinamis, dalam artian bergerak keliling di area permukiman, sehingga berbeda dengan konser musik atau pertunjukan yang digelar statis di lapangan atau gedung khusus.
“Permasalahannya bukan hanya keras, tapi juga durasi dan jangkauan. Itu bisa berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama warga sakit, balita, lansia, maupun warga yang butuh ketenangan,” lanjutnya.
Dia memaparkan, efek kesehatan yang bisa ditimbulkan antara lain gangguan tidur, stres, dan dalam jangka panjang memicu tinnitus (denging di telinga) atau gangguan keseimbangan saraf.
“Suara keras yang terus-menerus bisa membuat tubuh merespons negatif, sama seperti paparan asap rokok atau polusi udara,” paparnya.
Dia menegaskan, fenomena semacam ini harus dilihat sebagai bentuk polusi suara yang bisa merusak tubuh secara perlahan, bukan efek seketika.
“Kalau orang mendengar suara keras lalu langsung sakit jantung atau meninggal, kan tidak seperti itu. Tapi dampaknya akumulatif, sama seperti rokok. Perlahan tapi nyata,” ujarnya dengan memberi analogi.
Dinkes, menurut dia, tidak bermaksud melarang hiburan atau aktivitas budaya masyarakat. Namun, pihaknya mendorong kesadaran bersama agar suara-suara keras dikendalikan sesuai dengan ambang batas tubuh.
“Tubuh kita tidak ada onderdilnya. Kalau sudah rusak, tidak bisa diganti. Jadi mari kita jaga sama-sama agar awet digunakan sepanjang hidup,” pungkasnya. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah